Kehilangan di Pesisir Krui: Liburan Keluarga dari Tulang Bawang Berakhir Duka  

Berita, Daerah259 Dilihat
banner 468x60

KRUI, denyutrakyat.com – Suasana pagi di Pantai Labuhan Jukung, Krui, seharusnya dipenuhi tawa. Selasa, 26 Mei 2026, rombongan dari Tulang Bawang datang membawa rencana sederhana, melepas penat setelah perjalanan panjang dari Lampung timur ke pesisir barat. Mereka hanya ingin merasakan angin laut dan air yang segar. Tapi laut punya caranya sendiri untuk mengingatkan betapa rapuhnya rencana manusia.

Sekitar pukul 08.00 WIB, delapan orang dari rombongan itu turun ke air. Tidak ada firasat buruk. Yang ada hanya candaan dan air laut yang terasa dingin di kulit. Lalu arus kuat datang tanpa aba-aba. Dalam hitungan detik, lima orang terseret. Tiga orang berjuang melawan arus dan selamat dengan tenaga yang hampir habis. Dua lainnya tidak seberuntung itu.

Nama mereka kini diingat: Muhamad Yusup (34) warga Cilacap, berhasil diselamatkan berkat aksi cepat seorang wisatawan asing yang tidak ragu terjun ke tengah ombak. Dan Gilang Permana Putra (25), warga Rawa Jitu Timur, yang tubuhnya ditemukan tim SAR gabungan dan warga sekitar pukul 10.40 WIB, sudah tidak bernyawa di bibir pantai.

Bayangkan perjalanan pulang yang seharusnya membawa oleh-oleh dan cerita liburan, berubah menjadi perjalanan membawa jenazah. Isak tangis pecah saat jasad Gilang dievakuasi menuju Puskesmas Krui. Tidak ada tanda kekerasan. Hanya kecelakaan yang terjadi terlalu cepat untuk dicegah. Keluarga di Tulang Bawang menerima ini sebagai takdir, tapi kehilangan tetaplah kehilangan.

Kejadian ini bukan sekadar berita kecelakaan. Ini tentang seorang anak, saudara, teman, yang berangkat dengan harapan pulang membawa cerita. Kini yang tersisa hanya doa dan ruang kosong di meja makan.

Pantai Krui memang indah, tapi karakternya ganas saat ombak dan arus berubah. Kejadian ini mengulang pola yang sering terjadi: wisatawan datang dari luar daerah, tidak familiar dengan kondisi lokal, lalu mengandalkan insting daripada informasi.

Baca Juga  Namanya Dicatut Kendaraan ODOL PT BSSW. Ketua DPRD Tulang Bawang Barat Klarifikasi: Itu Bohong Besar

Beberapa hal yang sering luput tapi krusial:

  • Tanya warga setempat dulu. Mereka tahu kapan arus berbahaya, kapan waktu aman untuk berenang.
  • Perhatikan bendera dan tanda peringatan. Sering dianggap formalitas, padahal itu bahasa laut.
  • Jangan berenang berkelompok terlalu jauh dari bibir pantai kalau tidak ada penjaga pantai atau pelampung. Kekuatan arus di pesisir selatan Sumatra sering kali di luar dugaan.

Kita tidak bisa memutar waktu untuk Gilang. Tapi kita bisa memastikan namanya jadi pengingat, bukan sekadar statistik kecelakaan pantai.

Mari kirimkan doa untuk Gilang dan kekuatan untuk keluarga yang ditinggalkan. Semoga Muhamad Yusup segera pulih sepenuhnya.

Posting Terkait

Jangan Lewatkan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *