Korban Tewas di Jalan Berlubang, Pejabat Tubaba Absen. Warga yang Gotong Royong, Negara yang Hilang

Karim, wong cilik meninggal karena jalan berlubang. Tak ada empati pejabat saat ia dimakamkan.  

Beranda, Berita, Daerah1376 Dilihat
banner 468x60

TULANG BAWANG BARAT, denyutrakyat.com – Suasana duka masih menyelimuti kediaman almarhum Karim (37) di Tiyuh Gunung Katun Malay, Tulang Bawang Udik, Kamis (28/5/2026). Pria warga Bujung Tenuk, Menggala Selatan ini tewas dalam kecelakaan tunggal di depan PONED Panaragan Jaya. Dugaan penyebabnya sederhana jalan berlubang yang dibiarkan.

Kepalo Tiyuh Gunung Katun Malay, Saidan, memastikan prosesi pemakaman berlangsung pukul 10.00 WIB. Yang hadir hanya warga dan kerabat.

“Kalau pejabat yang hadir, saya sendiri sebagai kepalo tiyuh. Untuk camat maupun perwakilan dari kabupaten, setahu saya tidak terlihat hadir,” ujarnya.

Kehilangan itu terasa makin dingin karena sepinya empati. Karim memang warga kecil. Ia tidak butuh papan ucapan belasungkawa besar, tidak butuh santunan protokol dari Pemkab Tubaba. Tapi ucapan prihatin, sebatas turut berduka cita, pun tidak ada. Seolah kematiannya tidak layak untuk ditangisi oleh pejabat yang sehari-hari ia biayai lewat pajak.

Padahal beda ceritanya saat musim kampanye. Warga sakit gigi saja bisa didatangi calon pemimpin lengkap dengan tim sukses dan rombongan. Bantuan datang cepat, kamera lebih cepat lagi. Sekarang setelah ada korban jiwa, semua mendadak tuli dan buta.

“Saya sangat menyayangkan sikap pemerintah dan anggota DPRD Tubaba yang seolah tidak ada empati terhadap korban meninggal akibat kecelakaan di jalan rusak,” kata Ibnu Saleh, Tokoh Adat Gunung Katun.

Kehadiran negara baru terlihat lewat Satlantas Polres Tubaba yang datang untuk mendata KTP dan KK korban. Bukan untuk memperbaiki jalan yang membunuh warganya.

Sehari setelah kejadian, warga Panaragan Jaya tidak menunggu. Mereka gotong royong menambal jalan berlubang sepanjang kurang lebih 1 km. Batu, pasir, semen dibeli patungan. Lurah Sar’aini menyebut ini bentuk kepedulian bersama.

Baca Juga  Dana CSR dan Ritase Galian C di Dusun Clapar Diduga Buat Bancakan, Reklamasi Terabaikan

“Ini wilayah kita dan menjadi tanggung jawab bersama untuk merawatnya,” ujarnya.

Pernyataan itu benar, tapi juga memalukan. Karena logikanya terbalik. Warga yang swadaya, pemerintah yang hilang. Jalan rusak sudah lama dikeluhkan, tapi baru ditambal setelah ada nyawa melayang.

“Kalau warga bisa bergerak cepat menutup lubang jalan dengan dana swadaya, lalu di mana peran pihak yang memiliki kewenangan dan anggaran?” tanya seorang warga di lokasi.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari instansi terkait soal rencana perbaikan permanen. Tidak ada evaluasi, tidak ada permintaan maaf, tidak ada tanggung jawab.

Peristiwa ini menegaskan satu hal kerusakan jalan di Tubaba bukan lagi soal infrastruktur. Ini soal siapa yang dianggap berharga untuk diselamatkan. Dan nyatanya, Karim tidak masuk dalam daftar itu.

Posting Terkait

Jangan Lewatkan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *