TULANG BAWANG BARAT, denyutrakyat.com – Ruang diskusi publik digital untuk membangun Tulang Bawang Barat mulai diinisiasi. Ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Tubaba, Junaidi Farhan, membentuk WhatsApp Group bertajuk “Diskusi Positif untuk Tubaba” sebagai wadah bertukar gagasan lintas elemen.
Grup ini sengaja dirancang inklusif. Tokoh masyarakat, anggota DPRD, pejabat pemerintah daerah, wartawan, jurnalis, hingga aktivis LSM dan ormas diundang untuk duduk bersama secara virtual. Tujuannya jelas: menyatukan pandangan, meminimalisir friksi, dan merumuskan masukan konkret bagi kemajuan Tubaba tanpa saling menjatuhkan.
“Ini bukan grup pencitraan. Ini ruang adu gagasan yang sehat. Kalau kita mau Tubaba maju, semua pihak harus mau dengar dan didengar,” ujar Junaidi saat menjelaskan latar belakang pembentukan WAG tersebut.
Ia juga menyatakan forum terbuka bagi siapa pun yang ingin berkontribusi. Diharapkan, ruang diskusi ini dapat menjadi jembatan komunikasi yang efektif antara masyarakat dan pengambil kebijakan dalam merumuskan solusi pembangunan daerah yang partisipatif dan berkelanjutan.
Salah satu nama yang diharapkan menjadi motor diskusi adalah Edi Anwar, Ketua Komisi III DPRD Tubaba. Dengan posisi strategisnya sebagai wakil rakyat di bidang pembangunan, infrastruktur, dan keuangan kehadiran Edi dinilai krusial untuk menjembatani aspirasi masyarakat dengan kebijakan legislatif.
Namun, Edi Anwar memutuskan keluar dari grup beberapa saat setelah ditambahkan. Alasan keputusannya belum disampaikan secara terbuka kepada anggota grup lain.
Meski begitu, sejumlah anggota grup memilih melihat kejadian ini sebagai momentum untuk memperkuat budaya dialog. Mereka menilai, keterbukaan dan kesediaan untuk berdiskusi adalah kunci agar kebijakan publik tidak berjalan di ruang hampa.
Mendorong Dialog Kembali Terbuka
Keluarnya satu anggota bukan berarti forum ini berhenti. Justru ini jadi pengingat bahwa membangun kepercayaan butuh proses dan keteladanan dari semua pihak, terutama pemangku jabatan publik.
Beberapa tokoh di grup menyatakan akan tetap melanjutkan diskusi dan merangkum poin-poin gagasan untuk disampaikan secara resmi ke DPRD dan Pemkab Tubaba. Mereka juga berharap pintu komunikasi dengan Edi Anwar dan anggota dewan lain tetap terbuka di luar platform WAG.
“Kalau tujuannya sama, membangun Tubaba, jalurnya bisa banyak. Yang penting semangat kolaborasinya jangan padam karena satu kejadian,” kata salah satu aktivis yang ada di grup.
Langkah Junaidi Farhan ini dinilai positif sebagai upaya membangun ekosistem partisipasi publik yang lebih cair dan cepat. Di era digital, forum seperti ini bisa jadi jembatan efektif antara masyarakat dan pengambil kebijakan, asal dijalankan dengan etika dan komitmen bersama.
Ke depan, publik menantikan sinyal keterbukaan dari semua pihak di Tubaba untuk kembali duduk bersama. Karena perubahan yang tahan lama lahir dari percakapan yang jujur, bukan dari ruang yang kosong.


















