Tawuran ‘BY DESIGN’ Renggut Nyawa: Fransius Tewas Dibacok Depan RS Budi Medika Bandar Lampung

Berita, Daerah115 Dilihat
banner 468x60

BANDAR LAMPUNG, denyutrakyat.com – Jalan Yos Sudarso kembali memerah. Aksi tawuran antar geng remaja yang diduga sudah “janjian perang” menelan korban jiwa, Minggu, (10/5/2026), dini hari.

Fransius Sihombing, 21, warga Tanjung Karang Timur, tewas dengan luka serius usai jadi korban amuk massa di depan RS Budi Medika, Bumi Waras. Ironis, nyawanya melayang hanya beberapa meter dari UGD.

Kapolsek Bumi Waras AKP M. Hasbi Eko Purnomo membenarkan peristiwa berdarah itu. “Terjadi sekitar pukul 02.20 WIB. Personel yang patroli langsung ke TKP setelah dapat laporan,” ujarnya.

Hasil penyelidikan awal polisi dan keterangan saksi mengarah ke satu kesimpulan: ini bukan tawuran spontan. Dua kelompok itu sengaja bertemu untuk bentrok.

Saksi Diki, pegawai Cafe Wing and Burg di lokasi, melihat rombongan 7-10 motor datang dari arah Jalan Malahayati. Di depan RS, sudah menunggu 8-10 pemuda lain tanpa motor. “Begitu ketemu, langsung tawur. Saling serang pakai senjata,” kata Diki.

Keterangan itu dikuatkan Koko, sekuriti RS Budi Medika. Ia menyaksikan langsung dua gerombolan remaja itu baku hantam di badan jalan. “Kejadiannya cepat, 4 sampai 7 menit. Setelah ada yang tumbang, mereka bubar,” ucap Koko.

Fransius Sihombing ditemukan tergeletak dengan luka parah. Nyawanya tak tertolong meski lokasi kejadian tepat di depan rumah sakit.

Ini bukan insiden pertama. Jalan Yos Sudarso, Jalan Malahayati, hingga kawasan Teluk Betung sudah jadi “langganan” perang jalanan tengah malam. Polanya sama: janjian via medsos, bawa sajam, serang, viral, lalu ada korban.

Pertanyaannya: sampai kapan? Tawuran dini hari di depan fasilitas kesehatan adalah tamparan. Negara gagal hadirkan rasa aman bahkan di titik yang harusnya paling steril dari kekerasan.

Baca Juga  Kondisi Jalan Provinsi di Lampung 79.79 Persen Dalam Status Mantap. Mirza: Tidak Ada Jalan Berlubang Sebelum Lebaran 2026

Polsek Bumi Waras kini memburu pelaku. Namun penangkapan tak akan hentikan siklus maut jika akar masalah tak disentuh: lemahnya pengawasan orang tua, minimnya ruang ekspresi remaja, dan bebasnya peredaran sajam.

Fransius, 21 tahun, kini jadi nama baru dalam daftar panjang korban tawuran Bandar Lampung. Ia tewas di kota yang katanya “Aman dan Religius”.

Posting Terkait

Jangan Lewatkan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *