Saat Sawah Retak dan Tenaga Menganggur, Suara Petani Lemahbang Didengar Bupati Karanganyar

banner 468x60

DENYUT RAKYAT, KARANGANYAR – Di tengah terik kemarau yang memanjang, obrolan di Rembuk Tani Desa Lemahbang, Kecamatan Jumapolo, Jumat (4/9/2026), terasa berat. Bukan soal harga atau panen, tapi soal satu hal paling dasar: air.

Bagi para petani di sini, air bukan sekadar kebutuhan. Air adalah napas bagi lahan, dan juga bagi dapur rumah mereka.

Kardi, anggota Kelompok Tani Margo Mulyo dari Dusun Dlangin Kidul, Lemahbang, menahan kecewa saat bercerita. Tangannya sudah gatal ingin mengolah tanah, tapi mau mulai dari mana kalau saluran kering.

“Kalau kemarau seperti sekarang, banyak dari kami yang menganggur. Sawah tidak bisa digarap. Kami sungguh membutuhkan air. Kalau Waduk Jlantah bisa dibuka, itu akan sangat menolong kami,” ucapnya lirih di hadapan forum.

Bagi Kardi dan petani lain, kekeringan bukan hanya membuat tanah tandus. Ia juga memutus mata pencaharian. Tidak ada garap, tidak ada hasil, tidak ada pemasukan. Karena itu ia menitipkan harapan agar Pemkab Karanganyar mau duduk bersama Balai Wilayah Sungai (BWS) sebagai pengelola Waduk Jlantah.

Menjawab keluhan itu, Bupati Karanganyar H. Rober Christanto mengangguk. Ia paham, di saat air terbatas, rasa cemas antar petani bisa muncul.

“Kalau air memang sangat terbatas, kita harus menatanya bersama. Supaya adil. Jangan sampai hanya satu lahan yang kebagian, sementara saudara petani yang lain juga menunggu,” kata Rober.

Ia memastikan Pemkab akan segera berkoordinasi dengan BWS untuk mencari jalan agar sumber air dan jaringan irigasi bisa dioptimalkan, termasuk untuk wilayah Lemahbang yang saat ini paling terdampak.

Di tengah diskusi yang sarat keluh, ada juga secercah harapan. Rembuk Tani ini sekaligus menjadi momen penyerahan bantuan alat dan mesin pertanian. Salah satunya Alat Pembuat Pupuk Organik (APPO).

Baca Juga  Laporan Mandek, Warga Barumun Tengah Tuding Ada 'Main Mata' di Kasus PT Barapala

Zainal dari Taruna Tani Pemuda Maju Jaya Nusantara, Jatipuro, menerima bantuan itu dengan mata berbinar.

“Terima kasih. Alat ini akan kami pakai sebaik-baiknya. Harapannya kami bisa buat pupuk sendiri, tidak terlalu tergantung dari luar, dan biaya produksi bisa lebih ringan,” ujarnya.

Kepala Dinas Pertanian, Pangan dan Perikanan Karanganyar, Feriana Dwi Kurniawati, menyebut pemerintah memang terus berupaya mendampingi. Sejak 2024, bantuan sudah mengalir mulai dari benih padi dan jagung, pestisida, pupuk organik cair, hand sprayer, hingga pembangunan irigasi air tanah dangkal dan dalam.

“Tahun ini usulan dari kelompok tani adalah alat pengolah pupuk organik dan mesin perajang tembakau. Kami catat dan upayakan,” jelas Feriana.

Rembuk yang digagas Serikat Tani Bumi Lestari (SERTA BUMI) bersama Dispertan PP Karanganyar ini juga dihadiri Anggota DPRD Karanganyar Fraksi PDIP, Budi Santoso.

Di akhir pertemuan, Bupati Rober menitipkan pesan khusus untuk generasi muda. Ia melihat Lemahbang dan Jatipuro punya potensi jadi tempat belajar bertani.

“Petani di Karanganyar ini luar biasa. Kalau ada anak muda yang mau belajar, silakan datang ke Lemahbang dan Jatipuro. Di sinilah ilmunya, di sinilah orang-orangnya,” ucapnya.

Hari itu, di bawah langit kemarau, para petani pulang membawa dua hal: harapan agar air segera mengalir, dan keyakinan bahwa suara mereka didengar.

Posting Terkait

Jangan Lewatkan