Rp100 Miliar untuk 1.098 Sapi Bantuan Prabowo: Bagi-bagi Daging atau Bagi-bagi Citra?

Beranda, Berita, Nasional459 Dilihat
banner 468x60

JAKARTA, denyutrakyat.com – Jelang Idul Adha 2026, Istana mengumumkan akan membagikan 1.098 ekor sapi premium senilai Rp100 miliar. Anggarannya diambil dari APBN melalui pos Bantuan Presiden dan Bantuan Kemasyarakatan Presiden.

Wakil Menteri Sekretaris Negara Juri Ardiantoro memastikan sapi-sapi itu dibeli dari peternak lokal dan akan disebar ke seluruh kota dan kabupaten. Tapi ada catatan, harganya tidak main-main.

Dengan total Rp100 miliar untuk 1.098 ekor, rata-ratanya ketemu sekitar Rp91 juta per ekor. Itu harga seekor Simental, Limousin, Belgian Blue, Angus, sampai Carolaise — jenis sapi yang biasa masuk kategori “kelas atas”. Untuk konteks, harga itu setara satu unit mobil SUV baru.

“Penyesuaian harga per daerah,” kata Juri. Artinya, sapi di Jakarta beda harga sama sapi di Nias. Tapi yang pasti, semua dibayar pakai uang pajak.

Dari 1.098 ekor itu, pembagiannya juga menarik, 598 ekor disalurkan ke pemerintah daerah, sementara 500 ekor lainnya langsung mendarat ke lembaga sosial, keagamaan, pondok pesantren, dan “tokoh-tokoh”.

Program ini bukan barang baru. Setiap tahun menjelang Idul Adha, bantuan sapi presiden selalu jadi rutinitas. Bedanya tahun ini angkanya naik dan jenis sapinya makin premium.

Bagi peternak lokal, ini jelas angin segar. Tapi di sisi lain, publik wajar bertanya, seefektif itukah menghabiskan Rp100 miliar APBN untuk 1.098 ekor sapi? Apalagi 500 ekornya tidak langsung ke daerah, tapi ke lembaga dan tokoh tertentu.

“Tokoh-tokoh” ini menarik, karena kriteria “tokoh” itu apa? Ketua RT yang rajin ronda, atau tokoh yang kalau mau Pilkada fotonya harus nempel di baliho? Yang jelas, 500 ekor itu nggak lewat jalur birokrasi daerah. Langsung. Efisien. Tepat sasaran. Sasaran siapa? Itu urusan belakangan.

Baca Juga  Presiden Prabowo Serahkan Enam Unit Pesawat Tempur Rafale kepada TNI-AU. Percepatan Modernisasi Alutsista Nasional

Skemanya, Negara beli sapi mahal-mahal, dibagi-bagi menjelang Idul Adha, terus difoto, diupload, jadi konten. Peternak dapat duit, tokoh dapat nama, rakyat dapat daging 1 kg kalau beruntung. Sementara rakyat di pelosok, mungkin cuma kebagian foto pak presiden lagi nyerahin sapi lewat TV.

Kalau ada yang protes “kenapa nggak buat infrastruktur aja?”, jawabannya gampang, sapi nggak bisa protes. Sapi juga nggak ngerti APBN. Yang penting gemuk, fotogenik, dan bisa dibagi-bagi.

Jadi pertanyaannya sekarang, ini benar-benar bantuan kurban untuk rakyat, atau sekalian jadi investasi politik yang berbulu dan berkaki empat?

Selamat, Idul Adha 2026 resmi jadi ajang panen raya, panen pencitraan.

Posting Terkait

Jangan Lewatkan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *