Rocky Gerung: Kritikus Garis Keras yang Tahu Jalan Pulang ke Istana

Berita, Nasional176 Dilihat
banner 468x60

DENYUT RAKYAT Jakarta – Presiden Prabowo Subianto melantik sejumlah pejabat baru sore ini. Usai pelantikan, Prabowo tampak menyalami akademisi Rocky Gerung dan Ketua Dewan Direktur Great Institute, Syahganda Nainggolan, yang menjadi tamu dalam pelantikan tersebut. Senin (27/4/2026).

Dikutip dari Kompas, Rocky menuturkan, saat berbincang dengan Prabowo, ia disebut Prabowo sebagai seorang disiden, istilah untuk orang orang yang tidak mau menurut pemerintahnya karena menganggap pemerintah itu tidak sah atau pembangkang

“Ya pokoknya ada lah. Sama Pak Prabowo ya saya salaman tadi. Dan Prabowo kan teman saya diskusi dulu-dulu. Dan beliau, ‘wah Pak Rocky terima kasih hadir’ dan ‘ternyata Pak Rocky masih disiden’, gitu,” ujar Rocky

Ada ironi yang tidak bisa disembunyikan dari sosok Rocky Gerung. Di panggung, dia filsuf jalanan yang menguliti kekuasaan dengan kata “dungu” dan “fiksi”. Di belakang panggung, dia orang yang paham betul denah istana karena pernah mondar-mandir di dalamnya.

Dia bukan orang luar

Jangan tertipu narasi “oposisi murni”. Rocky pernah mengajar di Lemhannas, tempat para calon elite digembleng. Dia juga memberi materi ke perwira TNI-Polri. Artinya, dia ikut mencetak cara berpikir orang-orang yang hari ini memegang senjata dan kebijakan. Mengkritik pemerintah sambil dulu membentuk aparatnya? Itu bukan posisi netral. Itu posisi pemain.

Dia pernah jadi pengurus partai

Rocky ikut mendirikan Partai Indonesia Baru pada 2002. Keluar, lalu masuk Partai SRI 2011 dan duduk sebagai anggota Majelis Pertimbangan Partai. Partai SRI mau mengusung Sri Mulyani jadi capres. Gagal lolos KPU, tapi niatnya jelas: Rocky mau berkuasa lewat jalur formal. Jadi kalau hari ini dia bilang anti politik, sejarah mencatat dia pernah mencoba jadi bagian dari mesin politik.

Baca Juga  Pemerintah Tetapkan 1 Ramadan 1447 H Jatuh pada 19 Februari 2026

Lingkar kekuasaan versi LSM dan kampus

Bareng Gus Dur dan Azyumardi Azra, Rocky mendirikan Setara Institute 2005. Think tank itu bukan ormas pinggiran. Rekomendasinya dibaca menteri. Dia juga mengetuai Sekolah Ilmu Sosial yang isinya tokoh-tokoh tua politik. Bahkan sekarang dia pejabat di Federasi Panjat Tebing Indonesia 2023-2027, organisasi di bawah Kemenpora. Kekuasaan tidak cuma soal menteri. Kekuasaan adalah akses, jaringan, dan kursi yang dibiayai negara.

Jadi apa maunya Rocky?

Rocky bukan anti-kekuasaan. Dia anti jadi bawahan. Dia mau bicara dari mimbar yang lebih tinggi dari menteri, tanpa beban APBN dan tanpa risiko di-reshuffle. Posisi paling enak: mengkritik supir sambil tahu cara kerja mesin mobil karena pernah ikut merakitnya.

Publik suka Rocky karena dia memaki istana dengan bahasa yang cerdas. Tapi publik juga harus ingat: yang paling tajam mengkritik istana biasanya orang yang pernah kecewa karena tidak dapat kamar di dalamnya, atau orang yang sudah keluar tapi masih pegang kuncinya.

Rocky Gerung adalah keduanya. Dia pengkritik keras pemerintah yang tidak pernah benar-benar keluar dari lingkaran pemerintah. Dia hanya pindah dari ruang rapat ke podium. Dan dari podium, teriakannya terdengar lebih merdu.

Posting Terkait

Jangan Lewatkan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *