Rocky Gerung Dari Pengkritik Keras ke Lingkar Kekuasaan

Beranda, Berita, Nasional215 Dilihat
banner 468x60

DENYUT RAKYAT, Jakarta – Rocky Gerung dikenal publik sebagai filsuf yang vokal menguliti pemerintah. Istilah “dungu”, “fiksi”, dan “akal sehat” yang sering ia lempar jadi senjata kritik ke istana selama era Jokowi hingga awal Prabowo. Tapi jejak Rocky sebenarnya tidak pernah benar-benar di luar lingkar kekuasaan.

Pernah di dalam sistem

Jauh sebelum jadi “oposisi jalanan”, Rocky justru mengajar di lembaga-lembaga negara. Ia tercatat pernah jadi pengajar di Lemhannas dan memberi materi ke perwira TNI-Polri. Artinya, ia ikut membentuk cara berpikir aparat di pusat kekuasaan. Rocky juga pernah mengajar di Megawati Institute, lembaga yang dekat dengan PDIP.

Masuk politik praktis

Rocky bukan cuma pengamat. Tahun 2002 ia ikut mendirikan Partai Indonesia Baru bersama Sjahrir. Lalu 2011 gabung Partai SRI dan didapuk jadi anggota Majelis Pertimbangan Partai. Partai SRI waktu itu mau mengusung Sri Mulyani jadi capres 2014. Meski partainya gagal lolos verifikasi KPU, Rocky sudah pernah resmi duduk di struktur partai.

Membangun jaringan lewat pemikiran

Bersama Gus Dur dan Azyumardi Azra, Rocky ikut mendirikan Setara Institute pada 2005, lembaga think tank yang banyak memengaruhi kebijakan HAM dan demokrasi. Ia juga mengetuai Sekolah Ilmu Sosial, tempat berkumpulnya tokoh seperti Salim Said dan Rahman Tolleng. Posisi-posisi ini membuatnya tetap punya akses ke elite, meski dari jalur intelektual.

Jabatan di organisasi nasional

Terbaru, Rocky menjabat Wakil Ketua Bidang Panjat Tebing Alam dan Rekreasi di Federasi Panjat Tebing Indonesia periode 2023-2027. FPTI adalah induk organisasi olahraga di bawah Kemenpora. Ini bentuk lain dari “masuk lingkaran kekuasaan”, walau bukan politik.

Jadi paradoksnya dimana?

Rocky mengkritik kekuasaan dengan keras, tapi ia paham betul cara kerja kekuasaan karena pernah di dalamnya. Ia mengajar Lemhannas, mendirikan partai, duduk di majelis partai, dan aktif di organisasi yang terhubung ke negara. Bedanya, Rocky memilih tidak jadi pejabat. Ia ambil posisi sebagai “penjaga akal sehat” dari luar, tapi dengan modal jaringan dan pengalaman dari dalam.

Baca Juga  Air Melimpah, Sawah Kering: Skandal Sunyi Irigasi Takalar, Peran P3A Dipertanyakan

Kalimatnya tajam ke istana, tapi kakinya pernah menapak di koridor istana. Itu yang bikin kritik Rocky beda, dia bukan orang luar yang teriak-teriak, tapi orang dalam yang memilih keluar lalu menunjuk ke dalam.

 

Posting Terkait

Jangan Lewatkan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *