Tenaga Ahli KSP Singgung HAARP dan Pertemuan Prabowo-Putin Terkait Erupsi 6 Gunung, Warganet Minta Data Ilmiah

banner 468x60

DENYUT RAKYAT, JAKARTA – Pernyataan Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden (KSP) Ulta Levenia Nababan mengenai rangkaian erupsi enam gunung api di Indonesia memicu perdebatan publik. Dalam unggahan di media sosial pribadinya, Ulta mempertanyakan kemungkinan adanya “faktor lain” di luar proses alamiah dan menyinggung proyek penelitian ionosfer HAARP milik Amerika Serikat serta pertemuan Presiden Prabowo Subianto dengan Presiden Rusia Vladimir Putin.

Melalui akun pribadinya, Ulta menuliskan pertanyaan terkait waktu erupsi yang berdekatan dengan agenda kenegaraan.

“Kutipan: Kenapa sehari setelah Presiden RI bersalaman mesra dengan Putin di Vladivostok, 6 Gunung Vulkanik Indonesia Erupsi secara bersamaan?”

Ulta juga menyebut proyek High-frequency Active Auroral Research Program atau HAARP yang selama ini kerap dikaitkan dengan teori konspirasi. Ia menegaskan dirinya skeptis dan tidak ingin menerima penjelasan secara apa adanya.

Dalam unggahan yang sama, Ulta mengakui bahwa pemikiran tersebut belum didukung bukti ilmiah yang kredibel dan berpotensi dianggap sebagai teori konspirasi.

6 Gunung yang Erupsi Hampir Bersamaan

Berdasarkan data aktivitas vulkanik, enam gunung yang mengalami erupsi dalam periode berdekatan pada 31 Agustus 2026 adalah:

  1. Gunung Ibu – Maluku Utara
  2. Gunung Lewotobi Laki-laki – NTT
  3. Gunung Ili Lewotolok – NTT
  4. Gunung Semeru – Jawa Timur
  5. Gunung Anak Krakatau – Lampung
  6. Gunung Sinabung – Sumatera Utara

Aktivitas beberapa gunung berlanjut hingga awal September 2026. Erupsi Anak Krakatau bahkan sempat mengganggu rute penerbangan di Selat Sunda.

Tanggapan Ahli dan Warganet

Pernyataan Ulta mendapat respons beragam. Sejumlah warganet mempertanyakan dasar ilmiah yang digunakan untuk mengaitkan erupsi dengan HAARP maupun dinamika geopolitik. Salah satu komentar yang viral berbunyi: “Alam aja kena fitnah.”

Baca Juga  Tuduhan Selingkuh dengan Bupati Gowa Meletup, Ombas Laporkan Saksi ke Polda Sulsel

Hingga saat ini, belum ada bukti ilmiah kredibel yang menunjukkan HAARP dapat memicu gempa bumi atau erupsi gunung api. HAARP adalah fasilitas penelitian di Alaska yang digunakan untuk mempelajari ionosfer dengan gelombang radio frekuensi tinggi. Energi yang dilepaskan bekerja di lapisan atmosfer, bukan di kerak bumi tempat magma dan patahan berada.

Aktivitas vulkanik sendiri dijelaskan oleh ilmu vulkanologi sebagai hasil dari dinamika magma, tekanan gas, dan pergerakan lempeng tektonik di bawah permukaan bumi. Kemunculan beberapa erupsi dalam waktu berdekatan tidak serta merta membuktikan adanya campur tangan manusia.

Pernyataan tersebut disampaikan melalui akun pribadi Ulta Levenia Nababan. Namun karena yang bersangkutan menjabat sebagai Tenaga Ahli Utama KSP, unggahan tersebut mendapat perhatian lebih luas dibanding pernyataan masyarakat umum.

KSP belum mengeluarkan pernyataan resmi terkait unggahan tersebut.

Polemik ini kembali memunculkan diskusi lama mengenai teori konspirasi HAARP. Para ahli menekankan pentingnya membedakan antara sikap kritis dan kesimpulan tanpa data. Dalam konteks bencana alam, rujukan utama tetap pada data seismologi, vulkanologi, dan penelitian ilmiah yang dapat diuji.

Sampai ada bukti ilmiah, dugaan keterlibatan HAARP atau pihak asing dalam erupsi enam gunung di Indonesia tetap berstatus spekulasi pribadi, bukan fakta.

 

Catatan Redaksi Tentang KSP:

Kantor Staf Presiden adalah lembaga yang bertugas memberikan dukungan dalam pengelolaan isu strategis kepada Presiden Republik Indonesia.

Posting Terkait

Jangan Lewatkan