DENYUT RAKYAT, LOMBOK TENGAH – Kebijakan buta tuli itu akhirnya memakan korban lagi. Bukan 10, bukan 50, tapi 352 siswa sejumlah sekolah dasar (SD) di Kecamatan Batukliang, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB) dilarikan ke 4 Puskesmas, setelah menyantap Makanan Bergizi Gratis (MBG) kebanggaan Prabowo, Jumat (11/9/2026).
Gejalanya mengerikan, pusing, mual, muntah, nyeri perut, lemas, sesak napas, sampai diare. Anak-anak SD yang harusnya belajar, justru terkapar satu jam setelah makan nasi, ayam goreng tepung, dan roti canai basi dari SPPG Lombok Tengah Mekar Bersatu.
Kepala Regional Badan Gizi Nasional (BGN) NTB Eko Prasetyo membenarkan kejadian tersebut. Hingga pukul 18.00 Wita, seluruh korban telah mendapat penanganan di empat puskesmas.
”Total semua korban sampai jam 16.00 adalah 333,” kata Eko.
Ini bukan kejadian pertama. Kemarin Karo, sekarang Lombok. Polanya sama anak keracunan massal, polisi turun tangan, Wapres Gibran datang jenguk sambil obral janji “biaya ditanggung pemerintah”. Selesai.
Pertanyaannya: Sampai kapan?
Program triliunan rupiah ini jelas-jelas gagal total dalam SOP, pengawasan, dan distribusi. Yayasan abal-abal ditunjuk jadi pemasok, makanan basi disajikan ke anak-anak, tapi pemerintah pusat tetap bungkam dan melanjutkan program seolah tidak ada yang mati.
Prabowo buta melihat 352 anak muntah-muntah. Tuli mendengar jeritan orang tua di Puskesmas Pringgarata, Aik Darek, Mantang, dan Bagu.
Kalau program ini terus dipaksakan tanpa evaluasi total dan penghentian darurat, jangan sebut lagi Makan Bergizi Gratis. Tetapi sebut saja Makan Beracun Gratis. Program Negara Meracuni Anaknya Sendiri.
Biaya pengobatan memang ditanggung, tapi siapa yang menanggung trauma, kerusakan organ, dan nyawa anak-anak kita jika besok ada yang meninggal?


















