Mimbar Bebas Ormawa FISIP UNDANA: Ruang Ekspresi, Kritik, dan Refleksi

Daerah154 Dilihat
banner 468x60

DENYUTRAKYAT.COM, KUPANG  — Kegiatan Mimbar Bebas Ormawa FISIP UNDANA yang digelar di Pelataran Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), Universitas Nusa Cendana, menjadi wadah ekspresi sekaligus ruang refleksi bagi mahasiswa dalam merespons momentum pengukuhan Guru Besar Dekan FISIP UNDANA, Prof. Dr. William Djani, M.Si.

Kegiatan yang berlangsung pada Rabu (8/4/2026) ini memperlihatkan semangat mahasiswa dalam menyuarakan gagasan, harapan, serta kritik yang konstruktif demi kemajuan bersama. Mimbar bebas tersebut tidak hanya menjadi ajang berkumpul, tetapi juga momentum penting untuk menegaskan keberanian bersuara, merawat nalar kritis, serta menjaga marwah intelektual kampus.

Dalam salah satu orasi, aktivis mahasiswa Program Studi Sosiologi, Sandiang Kaya Ndapa Namung, menyampaikan bahwa kehadiran mahasiswa dalam forum tersebut bukan sekadar sebagai peserta, melainkan sebagai representasi suara kolektif.

“Hari ini kita berdiri di sini bukan hanya sebagai mahasiswa, tetapi sebagai suara-suara dari nurani akademik, suara dari realitas sosial, dan suara dari harapan akan perubahan,” ungkapnya.

Ia menegaskan bahwa pengukuhan Guru Besar Dekan FISIP UNDANA bukan sekadar seremoni akademik, melainkan momen refleksi bagi seluruh civitas akademika untuk menilai sejauh mana kampus benar-benar menjadi ruang yang adil, kritis, dan berpihak pada kebenaran.

Sebagai mahasiswa Sosiologi, lanjutnya, penting untuk memiliki kepekaan terhadap realitas sosial. Tidak hanya memahami teori di ruang kelas, tetapi juga mampu membaca berbagai persoalan seperti ketimpangan dan ketidakadilan yang terjadi di lingkungan sekitar.

Dalam orasinya, ia juga mengajukan sejumlah pertanyaan reflektif, di antaranya apakah kampus telah menjadi ruang yang benar-benar mendengar suara mahasiswa, apakah kebijakan yang diambil selalu berpihak pada kepentingan bersama, serta sejauh mana keberanian mahasiswa dalam menyuarakan kebenaran.

Baca Juga  Diprotes Warga Diva Karaoke Family di Margo Kencono Menuai Sorotan Publik

Lebih lanjut, ia menekankan bahwa mimbar bebas ini merupakan bukti masih terbukanya ruang dialog di kampus. Namun, ruang tersebut tidak boleh berhenti pada formalitas semata, melainkan harus menjadi wadah perjuangan gagasan, kritik yang konstruktif, serta keberanian dalam menyampaikan kebenaran secara bertanggung jawab.

“Kita tidak datang untuk melawan tanpa arah. Kita datang dengan kesadaran, dengan argumen, dan dengan harapan. Harapan bahwa kampus ini terus berkembang menjadi institusi yang tidak hanya mencetak sarjana, tetapi juga melahirkan pemikir kritis dan agen perubahan,” tegasnya.

Di akhir orasinya, Sandiang mengajak seluruh mahasiswa untuk memanfaatkan ruang tersebut secara bijak, tetap menjaga etika, serta menjunjung tinggi nilai-nilai intelektual dalam setiap penyampaian aspirasi.

“Karena pada akhirnya, perubahan tidak lahir dari diam—perubahan lahir dari keberanian untuk bersuara,” tutup Sandiang.

Posting Terkait

Jangan Lewatkan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *