TITIK TERENDAH PEMIMPIN – PEJABAT: DIPERMALUKAN OLEH RAKYAT SENDIRI

Beranda, Opini155 Dilihat
banner 468x60

Oleh: Ahmad Basri: K3PP

DENYUT RAKYAT | Ada satu kenyataan pahit yang harus dipahami setiap orang yang duduk di kursi kekuasaan bahwa jabatan memang bisa memberi kuasa tetapi tidak selalu memberi kehormatan.

Di puncak kekuasaan, semua terasa indah. Pujian datang dari berbagai arah. Protokol menghormati. Pengawal membuka jalan. Orang-orang berebut mendekat. Seolah dunia tunduk di bawah kaki.

Sejarah menunjukkan ada satu titik terendah yang paling memalukan bagi seorang pemimpin ketika dirinya dicemooh, diremehkan, dan dipermalukan oleh rakyatnya sendiri.

Itulah penghinaan paling pedih. Paling tajam. Dan paling sulit dipulihkan. Karena rakyatlah yang mengangkat seorang pemimpin, dan rakyat pula yang akhirnya menentukan apakah ia layak dihormati atau tidak.

Seorang pejabat mungkin takut pada pengadilan. Takut pada pemeriksaan. Takut pada lawan politik. Tetapi seharusnya jauh lebih takut ketika kehilangan rasa hormat dari rakyat.

Ketika penghormatan itu runtuh maka runtuh pula segalanya. Wibawa hilang. Perintah tak lagi didengar. Pidato hanya dianggap angin lalu. Kehadiran tidak lagi membawa harapan melainkan kejengkelan.

Bentuk penghinaan rakyat kadang sederhana tetapi sangat menusuk hati. Mulai dari cibiran kecil di pinggir jalan, bisik-bisik di warung kopi, tawa sinis saat pidato berlangsung, hingga menjadi bahan olokan di media sosial.

Pidato yang dulu disambut tepuk tangan berubah menjadi meme. Kata-kata resmi berubah menjadi bahan lelucon. Lebih menyakitkan lagi ketika seorang pemimpin berbicara serius tetapi rakyat menjawab dengan cibiran.

Bayangkan betapa pahitnya memakai seragam kebesaran. Duduk di kursi empuk. Berbicara dengan teks yang disusun staf ahli. Tetapi orang-orang di depannya tidak lagi melihat sebagai pemimpin. Mereka melihat sebagai beban.

Pejabat bicara soal pengabdian sementara rakyat melihat korupsi. Pejabat bicara soal kemajuan, sementara hidup rakyat makin susah. Pejabat bicara cinta negeri, cintai daerah sementara yang paling cintai justru kekuasaan dan isi kantong sendiri.

Baca Juga  Ketua LPM Tubaba Inisiasi Forum Diskusi Digital, Ajak Seluruh Elemen Bangun Daerah Bersama

Akhirnya setiap kalimat yang keluar bukan lagi dipercaya melainkan ditertawakan.
Itulah titik paling hina dalam kekuasaan ketika kenyataan hidup rakyat menampar habis kebohongan pejabat.

Masalah terbesar banyak pemimpin hari ini adalah merasa hormat bisa dipaksa lewat jabatan. Mereka lupa bahwa pangkat hanya bisa membuat orang tunduk sementara, tetapi tidak bisa membuat rakyat hormat selamanya.

Rasa hormat lahir dari keteladanan. Dari kejujuran. Dari keberanian memikul penderitaan rakyat, bukan sekadar menikmati fasilitas negara.

Pemimpin yang benar tidak sibuk membangun pencitraan diri tetapi membangun kepercayaan. Sebab rakyat mungkin bisa dibohongi sesaat tetapi tidak selamanya.

Ketika jalan rusak dibiarkan bertahun-tahun rakyat disuruh diam. Ketika harga kebutuhan naik sementara pejabat hidup mewah dan rakyat melihat.
Ketika janji kampanye berubah menjadi alasan dan dalih, rakyat disuruh paham keadaan.

Dan saat kesabaran itu habis, rakyat tidak selalu turun ke jalan. Kadang mereka hanya tertawa. Tetapi tawa rakyat terhadap pemimpinnya adalah pertanda bahwa kehormatan telah mati.

Seorang pemimpin boleh kehilangan jabatan, tetapi jangan sampai kehilangan martabat di mata rakyat. Karena jabatan ada masanya, sedangkan penghormatan hidup jauh lebih lama daripada kekuasaan itu sendiri.

Sejarah berkali-kali membuktikan banyak penguasa jatuh bukan karena miskin kekuatan melainkan karena miskin kepercayaan.

Pada akhirnya, rakyat mungkin tidak mengingat panjang pidato seorang pejabat. Tetapi rakyat akan selalu ingat apakah pemimpinnya hadir saat mereka susah, atau justru sibuk menyelamatkan dirinya sendiri.

Posting Terkait

Jangan Lewatkan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *