Masyarakat Tubaba Peduli (MANTAP) Peluk Keluarga Korban Laka Sebagai Bentuk Empati 

Beranda, Berita, Daerah365 Dilihat
banner 468x60

TULANG BAWANG BARAT, denyutrakyat.com – Rumah keluarga korban di Tiyuh Gunung Katun Malai masih diselimuti duka. Kehilangan Karim Bin Ratu secara mendadak di depan PONED Panaragan Jaya meninggalkan ruang kosong yang sulit diisi. Di tengah getirnya duka itu, Keluarga Besar Masyarakat Tubaba Peduli (eks relawan Koko) datang. Bukan membawa janji, tapi membawa rasa.

Mereka duduk bersama keluarga yang ditinggalkan. Menguatkan dengan pelukan, dengan doa, dengan hadir. Tidak ada kamera berlebihan, tidak ada seremoni. Hanya sesama manusia yang saling mengerti pedihnya kehilangan.

“Kami datang karena kami merasa. Kalau ada saudara kita jatuh, masa iya kita diam saja. Duka mereka, duka kita juga,” ucap lirih Wawan Hidayat, perwakilan Masyarakat Tubaba Peduli (MANTAP) atau mantan para relawan Koko (R2TB), Sabtu (30/5/2026)

Bantuan berupa sembako diserahkan langsung oleh Ibnu Saleh, tokoh adat Gunung Katun yang didampingi Wawan Hidayat dan beberapa keluarga besar Masyarakat Tubaba Peduli (MANTAP) kepada keluarga korban.

Kehadiran itu jadi penyejuk bagi keluarga almarhum Karim. Di saat dunia terasa berat, setidaknya ada tangan-tangan yang mau menggandeng.

Tapi kehangatan itu justru membuat banyak warga terdiam dan bertanya dalam hati. Sampai hari ini, belum terlihat wajah-wajah yang biasa bicara tentang “pelayanan untuk rakyat” mampir ke rumah duka. Belum ada sapaan, belum ada bentuk kepedulian nyata dari pemerintah kecamatan maupun kabupaten.

“Yang kami lihat yang datang duluan justru tetangga, teman, komunitas. Pejabatnya belum nampak. Kami tidak minta banyak, hanya kehadiran. Karena duka itu lebih ringan kalau dipikul bersama,” kata seorang warga dengan mata berkaca.

Luka ini terasa lebih dalam karena kabarnya jalan berlubang di depan PONED Panaragan Jaya sudah lama dikeluhkan. Karim pergi, meninggalkan tanya sampai kapan keselamatan warga harus dibayar dengan nyawa?

Baca Juga  Bupati Tubaba Minta Warga Stop Keluhkan Jalan Rusak, 65% Jalan Hancur Lebih Setahun: Program 'TubabaQ Sehat' Dikritik, BPJS Warga Miskin Banyak Mati"

Tragedi ini bukan sekadar berita duka. Ini pengingat pahit bahwa empati tidak boleh berhenti di pagar kantor. Masyarakat sudah menunjukkan caranya peduli. Kini giliran publik menunggu dengan sabar, akankah pemerintah Tubaba ikut hadir, mengusap duka keluarga Karim, dan membenahi jalan yang merenggutnya?

Karena rakyat tidak butuh pidato panjang saat berduka. Rakyat hanya butuh dirasa, didengar, dan dilindungi

Posting Terkait

Jangan Lewatkan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *