Lubang Hitam Pendidikan KBB: Pesilat APN dan Relawan Formades, Temukan Sekolah Taruhanan Nyawa

Berita118 Dilihat
banner 468x60

DENYUT RAKYAT, Bandung Barat – Medali kejuaraan silat boleh saja gemerlap di linimasa. Tapi di puncak gunung Sindangkerta, Bandung Barat, para pesilat justru menemukan fakta yang menampar, siswa SDN Giriasih harus bertaruh nyawa setiap hari demi sekolah.

Tim bersama Forum Membangun Desa (FORMADES) dan Asosiasi Pesilat Nusantara (APN) nekat menembus jalur terjal 3 kilometer yang hanya bisa dilewati motor khusus. Taruhannya, jurang di kiri-kanan jalan.

Kepala Sekolah sudah 4 kali terperosok ke jurang

Kepala SD Negeri Giriasih, Encep Supriatna, S.Pd., tak hanya mengajar. Ia merangkap kepala sekolah di dua tempat dan mengaku sudah empat kali terjatuh ke tepi jurang saat berangkat.

“Kalau jatuh ke jurang, sudah 4 kali, tapi Alhamdulillah, masih sehat dan masih bisa mengajar,” ungkap Encep, Jum’at (24/4/2026)

“Yang paling pahit, hingga detik ini, belum pernah ada satupun pejabat teras baik Kabupaten Bandung Barat maupun Provinsi Jawa Barat, yang menginjakkan kaki di sekolah ini,” lanjut Encep.

Negara Absen, Undang-Undang Dilanggar

Sekretaris Jenderal DPP Formades yang juga Presiden APN, Agus Dadang Hermawan, atau yang lebih akrab disapa Kang Harry, menyebut SDN Giriasih sebagai ‘lubang hitam’ pendidikan. Kondisi ini, melanggar telak Konstitusi dan Undang-Undang

  1. UUD 1945 Pasal 31, Hak warga negara dapat pendidikan & kewajiban negara membiayai, dan Pasal 28C Hak pengembangan diri.
  2. UU Sisdiknas No. 20/2003, Wajib ada sarpras layak.
  3. UU Jalan No. 2/2022, Wajib ada akses infrastruktur merata.

Silat Bukan Cuma di Matras

Sementara itu, turun langsung ke lokasi, Guru Besar Lugay Kancana yang juga Sekjen APN, Dodi Suhada Akum menegaskan sikapnya, “Pencak silat adalah keberanian membela yang lemah. Anak-anak taruhan nyawa, pejabat asyik di balik meja. Kami bawa data ini ke jalur advokasi resmi,” tegasnya geram.

Baca Juga  20 Rumah Terdampak Banjir di Dua Desa, Kecamatan Sribhawono, Lampung Timur

Tim relawan Formades dan pesilat APN, yang juga di bersamai,  beberapa pengurus pusat Formades seperti; H. Aam Sopyan, Asep Gandi Wahyudi, dan Yadi Wahyudi itu mendesak aksi nyata pemerintah, khususnya Kabupaten Bandung Barat.

“Jangan jawab kami dengan janji di atas kertas. Kami butuh beton di jalan Giri Asih dan perbaikan gedung sekolah sekarang juga,” kata Haji Aam, Ketua Bidang Sapras DPP Formades.

Kang Harry terang-terangan menyindir visi Bupati Bandung Barat, Jeje Ritchi Ismail dan wakilnya, Asep Ismail ‘Bandung Barat Berkah’.

“Dari bupati pertama hingga sekarang, Giriasih tetap jadi anak tiri. Kalau pemimpin alergi lihat perbatasan, biar pesilat dan relawan desa yang rebut kembali hak rakyat,” pungkasnya.

Posting Terkait

Jangan Lewatkan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *