GKR Bendara: Indonesia Harus Mandiri dan Berakar pada Budaya untuk Menangkan Industri Wellness Global

Berita, Daerah123 Dilihat
banner 468x60

YOGYAKARTA, denyutrakyat.com – Industri pariwisata kesehatan (wellness tourism) di Indonesia kini berada di persimpangan jalan antara mengikuti tren global atau menciptakan identitasnya sendiri.

Menanggapi tantangan ini, Himpunan Mahasiswa Pariwisata STP AMPTA Yogyakarta menyelenggarakan sharing session bertajukPengembangan Cultural Wellness Tourism Sebagai Produk Wisata Unggulan DIY pada Sabtu (9/5/2026)

Acara yang digelar di Ruang Tamansari ini menghadirkan GKR Bendara, sosok sentral di balik  Jogja Cultural Wellness, sebagai narasumber utama.

Dalam diskusi yang hangat tersebut, GKR Bendara menyoroti sebuah fakta pahit: meskipun Indonesia memiliki kekayaan tradisi kesehatan yang melimpah, industri wellness saat ini masih sangat bergantung pada pihak asing.

Hal ini terlihat jelas dari dominasi pengajar dan lembaga sertifikasi luar negeri, terutama dalam bidang yoga dan teknik pernapasan (breathwork), di mana fasilitator asli Indonesia masih sangat langka.

“Kita masih tertinggal dalam mengikuti tren global karena kita belum memiliki infrastruktur sertifikasi mandiri yang kuat,” ungkap GKR Bendara.

Beliau menekankan bahwa Indonesia harus segera membentuk badan sertifikasi lokal untuk mencetak instruktur yang diakui secara internasional namun tetap membawa jiwa dan pendekatan khas Nusantara.

Lebih dari sekadar infrastruktur, GKR Bendara menegaskan bahwa kunci keberhasilan wisata wellness terletak pada kekuatan storytelling, dan narasi budaya. Indonesia memiliki potensi besar untuk menulis ulang (re-write) konsep kebugaran global dengan memasukkan elemen kearifan lokal yang tidak dimiliki negara lain.

Menurutnya, setiap daerah memiliki akar budaya yang berbeda, mulai dari Bali, Yogyakarta, hingga NTT, yang harus menjadi identitas unik dalam pelayanan mereka.

Dengan narasi yang kuat, wisatawan mancanegara tidak hanya datang untuk memulihkan fisik, tetapi juga untuk meresapi nilai filosofis dan sejarah di balik setiap praktik kesehatan yang mereka jalani.

Baca Juga  Pemerintah Provinsi Lampung Pastikan Penyelesaian Tunda Bayar Dilakukan Februari 2026

Diskusi juga membedah segmentasi pasar yang semakin beragam. GKR Bendara menjelaskan terdapat dua tipe utama wisatawan wellness:

Tipe Pemula (Beginner): Mereka yang menikmati aktivitas ringan seperti yoga atau meditasi di tepi sungai sebagai bagian kecil dari perjalanan liburan mereka.

Tipe Ahli (Expert): Wisatawan yang mencari retret intensif, seperti paket Digital Detox selama lima hari tanpa ponsel, yang menggabungkan meditasi, makanan sehat, dan sound healing.

Contoh sukses seperti Yoga Barn di Bali menjadi acuan bagaimana sebuah paket wisata bisa dikemas secara profesional dengan tetap menjaga keaslian pengalaman yang ditawarkan.

Sebagai penutup, GKR Bendara menyerukan pentingnya kolaborasi lintas sektor antara pemerintah, akademisi, dan praktisi industri untuk membangun ekosistem yang berkelanjutan.

Standardisasi produk dan layanan bukan hanya soal birokrasi, melainkan jaminan keamanan dan kenyamanan bagi wisatawan global.

Melalui inovasi yang berakar pada budaya, diharapkan produk wisata tematik Indonesia tidak hanya mampu bersaing di panggung dunia, tetapi juga menjadi warisan yang terus menghidupkan tradisi luhur bangsa bagi generasi mendatang.

Posting Terkait

Jangan Lewatkan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *