Dulu Jalan Rusak Jadi Panggung, Sekarang Kritik Dianggap Berisik:

“Jangan Ribut Jalan Rusak”: Dari Amunisi Kampanye Jadi Gangguan Kuping Penguasa

Opini150 Dilihat
banner 468x60

Oleh: We_Ha (Penggerak Muda Tubaba)

TUBABA | DENYUT RAKYAT – Ingat panggung debat calon kepala daerah? Penuh sesumbar. “Percepatan pembangunan”, “kolaborasi pusat”, “daya ungkit daerah”. Jalan rusak jadi materi wajib. Disebut prioritas utama. Tiga exit tol dipajang sebagai gerbang kemajuan. Rakyat disuruh percaya: tinggal tunggu waktu, aspal mulus sampai depan rumah.

Menang. Duduk. Lalu nadanya ganti: “Jangan ribut di jalan rusak, tidak maju-maju kita.”

Lho, yang mana yang benar? Dulu jalan rusak itu masalah prioritas, sekarang jadi gangguan pembicaraan?

Yang bikin rakyat teriak itu bukan karena hobi ribut. Ban pecah di jalan berlubang itu nyata. Motor selip jatuh bukan gimmick. Ongkos angkut gabah naik karena truk harus pelan-pelan menghindari jebakan aspal, itu juga bukan bahan debat. Itu hidup sehari-hari.

Ironisnya presisi: saat jadi calon, jalan rusak adalah senjata politik. Setelah berkuasa, keluhan soal jalan rusak mendadak dianggap kebisingan. Kritik berubah kasta, dari “aspirasi” menjadi “pengganggu”.

Demokrasi tidak jalan begitu. Rakyat nyoblos bukan untuk jadi penonton pidato lanjutan. Mereka nagih bukti. Kalau dulu infrastruktur dijadikan alasan kenapa harus dipilih, maka hari ini teriakan warga soal jalan itu kwitansi. Bukan keributan. Itu tagihan janji.

Yang lebih lucu, di napas yang sama pemerintah bilang: “Banyak masyarakat belum tahu program kami, itu tugas kami sosialisasi.”

Jadi masalahnya jelas: pemerintah mau rakyat paham programnya, tapi pemerintah enggan paham jalannya rakyat. Dua-duanya ngomong, tapi frekuensinya beda. Radio nyala, tapi budek sebelah.

Publik ngerti kok, bangun daerah tidak bisa semalam. Yang nyakitin bukan lambatnya ekskavator. Yang nyakitin itu berubahnya mulut setelah kursi didapat.

Rakyat ingatannya sederhana. Mereka ingat siapa yang dulu paling kencang teriak “percepatan jalan”. Dan mereka catat juga siapa yang sekarang nyuruh diam karena jalan rusak “tidak usah diributkan”.

Baca Juga  Prinsip Dasar Kaidah Jurnalistik Dunia Hampir Sama, Hanya Implementasinya Yang Berbeda

Di situ ironinya telanjang. Yang rusak ternyata bukan cuma jalan. Ingatan penguasa juga ikut berlubang.

Posting Terkait

Jangan Lewatkan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *