Keragaman Budaya Tradisi di Nusantara: Pengakuan Lisan, Tapi Hati yang Kosong

Opini, Serbaserbi71 Dilihat
banner 468x60

Oleh: Agus DH, SE (Pemerhati dan Pelaku Budaya Bandung Barat)

 

DENYUTRAKYAT.COM | KEARIFAN LOKAL – Kita sering berbangga dengan kekayaan budaya tradisi Nusantara. Namun, apa gunanya pengakuan jika tidak dibarengi dengan kasih sayang dan nutrisi yang baik? Budaya tradisi kita seperti pohon yang kurus kering, stanting, dan siap mati.

Mereka yang seharusnya menjadi penjaga, malah menjadi pedagang. Budaya tradisi dijadikan komoditas, dijual kepada penawar tertinggi. Apa yang seharusnya menjadi warisan, malah menjadi transaksi materi semata.

Kita telah kehilangan jiwa budaya. Kita hanya sibuk menghitung nilai ekonomis, bukan nilai spiritual dan historis. Kita lupa bahwa budaya tradisi adalah napas bangsa, bukan sekedar aksesoris.

Hentikanlah! Hentikanlah transaksi ini! Kasih sayang dan nutrisi yang baik adalah hak budaya tradisi. Kita harus menjadi penjaga, bukan pedagang. Kita harus menjaga, bukan menjual.

Bangkitlah, para pelaku budaya! Bangkitlah, para tokoh budaya! Kita harus bersatu, kita harus berjuang. Jangan biarkan budaya tradisi kita mati dan punah!

Ini bukan hanya tentang budaya, tapi tentang identitas kita.

Baca Juga  Prinsip Dasar Kaidah Jurnalistik Dunia Hampir Sama, Hanya Implementasinya Yang Berbeda

Posting Terkait

Jangan Lewatkan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *