DENYUT RAKYAT, Karanganyar – Desa Tunggulrejo, Kecamatan Jumantono, Kabupaten Karanganyar, terus menunjukkan inovasi dalam pembangunan desa melalui pengembangan potensi lokal yang terintegrasi.
Mengandalkan sektor pertanian sebagai basis utama, desa ini membangun sistem ekonomi sirkular yang menghubungkan pertanian, pasar desa, agrowisata, dan pengelolaan sampah rumah tangga.
Kepala Desa Tunggulrejo, Parno, S.Pd., M.H., menjelaskan bahwa pertanian tetap menjadi potensi utama desa. Namun, potensi tersebut tidak berhenti pada aktivitas budidaya, melainkan dikembangkan menjadi berbagai unit usaha yang memberi nilai tambah ekonomi bagi masyarakat.
“Potensi utama desa kami tetap pertanian. Tetapi dari pertanian itu kami kembangkan menjadi produk ekonomi lain seperti pasar desa, wisata berbasis agrowisata, dan pengelolaan sampah yang mendukung pertanian kembali,” ujarnya kepada media, Jumat (24/4/2026).
Konsep ekonomi sirkular yang diterapkan di Desa Tunggulrejo menghubungkan hasil pertanian, pengelolaan limbah, hingga pemasaran produk dalam satu rantai ekonomi desa. Sampah organik dari rumah tangga dan pasar diolah menjadi kompos untuk mendukung usaha pertanian, sementara hasil pertanian dipasarkan melalui pasar desa dan kawasan wisata.
Untuk mendukung pengembangan tersebut, Pemerintah Desa Tunggulrejo membangun pasar desa pada tahun 2021 dengan fasilitas 55 kios dan 80 los. Pasar ini menjadi pusat pemasaran hasil pertanian warga sekaligus penggerak ekonomi desa.
Selain pasar desa, Tunggulrejo juga mengembangkan kawasan wisata Telaga Kusuma berbasis agrowisata. Keberadaan wisata desa ini tidak hanya menjadi destinasi rekreasi, tetapi juga membuka ruang usaha bagi UMKM lokal dan menjadi pasar bagi produk-produk warga.
“Telaga Kusuma bukan hanya tempat wisata, tetapi juga menjadi ruang pemberdayaan ekonomi masyarakat,” kata Parno.
Dalam bidang lingkungan, Desa Tunggulrejo juga membangun TPS 3R (Reduce, Reuse, Recycle) dan mengembangkan bank sampah berbasis RT. Dari total 46 RT, saat ini telah terbentuk 30 bank sampah, dengan target bertambah menjadi 40 bank sampah dalam waktu dekat.
Melalui program ini, desa mampu mengelola sampah plastik sekitar 4 hingga 5 ton per tahun, dan menargetkan peningkatan hingga 10 sampai 15 ton per tahun pada tahun mendatang.
“Pengelolaan sampah ini bukan hanya menyelesaikan masalah lingkungan, tetapi juga memberi nilai ekonomi dan membuka lapangan kerja,” jelasnya.
Program pengelolaan sampah yang dijalankan Desa Tunggulrejo berbasis partisipasi masyarakat. Sampah organik diolah menjadi kompos, sedangkan sampah anorganik dipilah melalui bank sampah agar memiliki nilai jual.
Dampak dari integrasi program pembangunan ini mulai dirasakan masyarakat. Di sektor wisata, lebih dari 40 tenaga kerja lokal telah terserap. Sementara itu, unit usaha desa melalui BUMDes mampu memberikan kontribusi sekitar Rp300 juta per tahun bagi pendapatan desa.
Pendapatan tersebut kemudian dimanfaatkan kembali untuk mendukung pembangunan infrastruktur desa dan pemberdayaan masyarakat.
Menurut Parno, kunci keberhasilan pembangunan desa terletak pada kemampuan desa mengelola dan memasarkan potensi yang dimiliki agar memberikan manfaat nyata bagi warga.
“Semua desa punya potensi. Yang membedakan adalah bagaimana potensi itu dikelola, dipasarkan, dan mampu memberi manfaat bagi masyarakat,” tegasnya.
Keberhasilan Desa Tunggulrejo menunjukkan bahwa pembangunan desa berbasis potensi lokal dapat menjadi strategi yang efektif untuk memperkuat ekonomi masyarakat sekaligus menjaga keberlanjutan lingkungan.
Dengan mengintegrasikan sektor pertanian, pariwisata, dan pengelolaan sampah, Desa Tunggulrejo menghadirkan model pembangunan desa yang tidak hanya produktif secara ekonomi, tetapi juga berkelanjutan.


















