Praktik Hukum Rimba Adalah Simbol Kekuasaan dan Pengkhianatan

Fokus156 Dilihat
banner 468x60
DENYUT RAKYAT, Opini – Praktik hukum rimba bukan sekadar metafora; ia benar-benar hadir dan bekerja dalam dinamika kekuasaan. Thomas Hobbes, dalam Leviathan, menggambarkan kondisi seperti ini sebagai keadaan alamiah: keadaan ketika manusia hidup dalam “perang semua melawan semua”, di mana yang kuat menguasai yang lemah. Dalam kondisi seperti itu, keadilan menjadi mewah dan nyaris mustahil ditemukan.

 

Pengkhianatan adalah bentuk paling menyakitkan dari hukum rimba. Banyak pemimpin yang menggunakan kekuasaan untuk menghancurkan lawan, bahkan kawannya sendiri yang tak lagi sejalan. Niccolò Machiavelli dalam Il Principe menegaskan bahwa kerapatan kekuasaan dipertahankan bukan dengan moralitas, tetapi dengan kecakapan menggunakan ketakutan, manipulasi, dan—bila perlu—pengkhianatan. Kekuasaan seperti ini sangat berbahaya ketika tidak diimbangi etika.

 

Oleh karena itu, perjuangan menuntut keadilan dan akuntabilitas harus dilakukan terus-menerus. Dalam logika hukum rimba, keadilan hanyalah jarum di tumpukan jerami. Namun ironi terbesarnya adalah, bahkan dalam negara hukum modern sekalipun, implementasi keadilan masih jauh dari sempurna. Mereka yang kuat bisa melanggar hukum dengan impunitas, sementara yang lemah harus menanggung konsekuensi. Inilah wajah lain dari hukum rimba yang tersembunyi di balik kemasan hukum modern.

 

Untuk itulah rakyat harus terus memperjuangkan kesadaran hukum dan hak-hak mereka. Ini bahkan lebih penting dari kebutuhan perut. Sebab saat korup pemerintah dan penegak hukum tak independen, sistem menjadi hampa. Buktinya bisa jelas, petunjuknya bisa terang, tetapi karena kepentingan politik atau ekonomi, kebenaran tetap terungkap.

 

Langkah yang dapat dilakukan meliputi memperkuat gerakan masyarakat, mendukung lembaga antikorupsi, hingga protes damai. Namun jalan ini tidak pernah mudah. Beban bertambah ketika aktivisme LSM atau jurnalis—yang seharusnya menjadi penjaga kebenaran—malah menjadi bagian dari permainan kekuasaan karena ketidakseimbangan. Itu adalah pengkhianatan yang tidak hanya merusak integritas pribadi, tetapi juga harapan masyarakat.

Baca Juga  Program Kerja Presiden Republik Indonesia Dari Masa Ke Masa

 

Saat menyelesaikan ujian paling berat muncul: menghadapi kawan sendiri yang berubah arah. Melawan musuh itu mudah; melawan sahabat jauh lebih perih karena ada jejak kepercayaan. Tetapi kesetiaan pada kawan tidak boleh melampaui kesetiaan pada kebenaran. Machiavelli bahkan mengingatkan bahwa seorang pemimpin yang tak mampu mengambil keputusan keras demi kebenaran akan terseret oleh penipuan dan manipulasi.

 

Pengkhianatan seorang kawan memang menyakitkan, namun tidak boleh menghalangi langkah memperjuangkan keadilan. Ada saat di mana keberanian untuk menghentikan perilaku yang salah menjadi satu-satunya pilihan. Pada akhirnya, bahkan dalam hukum rimba sekalipun, ada batasnya: ketika keserakahan sudah kenyang, kekuatan itu akan menghancurkan dirinya sendiri.

Editor: Jufala/ 24.11.2025

Posting Terkait

Jangan Lewatkan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *