Strategi dan Taktik: FORMADES dan Tantangan Menjadi Organisasi yang Mampu Berpikir

Beranda, Budaya, Fokus, Iptek15 Dilihat
banner 468x60

Oleh : Yoseph Heriyanto, Ketua Bidang Litbang dan Inovasi DPP Formades

 

DENYUT RAKYAT – Dalam banyak organisasi, persoalan sering kali terlihat sederhana, program kerja tidak berjalan, action plan tidak tersedia, target organisasi tidak tercapai, atau struktur organisasi belum bergerak sebagaimana yang diharapkan. Respons yang kemudian muncul biasanya juga sederhana, buat program kerja, susun action plan, bagi tugas, lalu minta semua orang bekerja.

Padahal, persoalan organisasi tidak selalu berada di wilayah pekerjaan yang tampak di permukaan. Sering kali persoalannya justru berada jauh di atasnya.

Sebelum berbicara tentang program kerja, organisasi seharusnya terlebih dahulu menjawab pertanyaan yang lebih mendasar: ke mana organisasi hendak dibawa, perubahan apa yang ingin dicapai, strategi apa yang dipilih, dan bagaimana strategi tersebut akan dijalankan?

Dengan kata lain, ada proses berpikir yang seharusnya mendahului pekerjaan.

Skemanya sederhana:

Visi/Target → Analisis (Strategi/Taktik) → Action Plan/Program Kerja.

Persoalannya, banyak organisasi justru memulai dari ujung yang paling hilir. Program kerja dibuat terlebih dahulu, sementara visi, target, analisis, strategi, dan taktik belum selesai dibicarakan. Akibatnya, organisasi terlihat sibuk, tetapi belum tentu bergerak menuju arah yang jelas.

Persoalan semacam ini relevan untuk direnungkan oleh Forum Membangun Desa (FORMADES) hari ini.

FORMADES sedang berada dalam fase penting. Organisasi ini tidak lagi cukup hanya dipahami sebagai forum berkumpulnya orang-orang yang memiliki kepedulian terhadap desa. FORMADES sedang dituntut membangun struktur, memperkuat kader, mengembangkan program, memperluas jaringan, sekaligus membuktikan bahwa gagasan tentang desa mandiri, berdaulat, dan berkelanjutan dapat diterjemahkan menjadi kerja nyata.

Dalam fase seperti ini, tantangan terbesar FORMADES bukan sekadar berapa banyak program yang dapat dibuat. Tantangan sesungguhnya adalah apakah FORMADES mampu membangun organisasi yang berpikir? Semuanya Harus Dimulai dari Visi dan Target

Dalam sebuah kerja organisasi, hal yang paling awal bukanlah program kerja. Bukan pula action plan. Yang paling awal adalah visi dan target. Visi secara sederhana dapat dirumuskan melalui pertanyaan: Apa yang kita harapkan terjadi lima tahun lagi?

Sedangkan target menjawab pertanyaan. Perubahan apa yang ingin kita lihat terjadi enam bulan lagi? Visi memberikan arah jangka panjang. Target memberikan capaian jangka pendek yang menjadi pijakan menuju visi. Keduanya harus jelas sebelum organisasi mulai berbicara mengenai program.

Sebab tanpa visi, organisasi tidak memiliki arah. Tanpa target, organisasi tidak memiliki ukuran keberhasilan. Dan tanpa ukuran keberhasilan, kegiatan mudah berubah menjadi sekadar rutinitas.

Dalam konteks FORMADES, visi organisasi harus diterjemahkan menjadi kerangka berpikir dan arah gerak yang konkret. Di sinilah Sapta Prakarsa FORMADES memiliki posisi penting.

Sapta Prakarsa tidak semestinya dipahami hanya sebagai kumpulan kegiatan. Ia harus ditempatkan sebagai kerangka strategis untuk menerjemahkan cita-cita FORMADES tentang desa yang mandiri, berdaulat, dan berkelanjutan ke dalam agenda perubahan.

Dengan demikian, setiap prakarsa dalam Sapta Prakarsa harus dapat menjawab pertanyaan:

  • Perubahan apa yang hendak diwujudkan?
  • Persoalan apa yang hendak diselesaikan?
  • Target apa yang ingin dicapai
  • Bagaimana prakarsa tersebut memperkuat visi besar FORMADES?

Dari sinilah organisasi kemudian menentukan mana yang menjadi prioritas.

Quick Win: Bukan Visi, tetapi Prioritas Akselerasi

Dalam kerangka tersebut, Quick Win harus ditempatkan secara tepat. Quick Win bukan pengganti Sapta Prakarsa. Quick Win juga bukan sekadar daftar program tambahan.

Quick Win adalah program prioritas yang dipilih untuk mempercepat pembuktian dan implementasi arah strategis FORMADES yang bersumber dari Sapta Prakarsa.

Dengan kata lain, Sapta Prakarsa memberikan arah. Quick Win memberikan prioritas. Strategi memberikan pilihan cara. Taktik menentukan cara mengeksekusi. Action plan menerjemahkannya menjadi pekerjaan konkret.

Maka bangunan berpikir FORMADES dapat dirumuskan sebagai: Visi FORMADES → Sapta Prakarsa → Target Strategis → Quick Win → Strategi/Taktik → Action Plan/Program Kerja.

Ada satu hal penting yang perlu ditegaskan: berbicara tentang Quick Win berarti berbicara tentang kerja lintas bidang di FORMADES.

Quick Win tidak boleh dipahami sebagai milik eksklusif satu bidang tertentu. Sebab sebuah program prioritas yang dipilih untuk mempercepat pencapaian visi organisasi pada dasarnya hampir selalu membutuhkan kontribusi dari lebih dari satu bidang.

Satu bidang mungkin memiliki mandat utama sebagai lead sector, tetapi bidang-bidang lain dapat memiliki fungsi yang sama pentingnya dalam riset, pengembangan konsep, pendidikan dan kaderisasi, advokasi, komunikasi, pengorganisasian, pengembangan jaringan, pendampingan, hingga evaluasi.

Karena itu, Quick Win harus menjadi ruang kolaborasi lintas bidang FORMADES. Ketika FORMADES menjalankan sebuah Quick Win, pertanyaannya bukan hanya:

“Bidang siapa yang mengerjakan?” Tetapi juga: “Bidang apa saja yang harus terlibat agar target strategisnya tercapai?”

Dengan cara berpikir ini, Quick Win dapat menjadi instrumen untuk memecah sekat-sekat sektoral di dalam organisasi.

Bidang tidak lagi bekerja sebagai unit yang berdiri sendiri-sendiri. Masing-masing bidang membawa kompetensinya untuk mencapai satu target bersama. Di sinilah Quick Win sekaligus menjadi instrumen untuk membangun budaya kerja kolaboratif di dalam FORMADES.

Baca Juga  Akankah Putusan MK, Akhir dari Praktik Kriminalisasi UU ITE, Secara Pasti

Dengan demikian, Quick Win memiliki dua fungsi sekaligus: sebagai instrumen akselerasi program dan sebagai instrumen konsolidasi organisasi.

Organisasi belajar bekerja lintas bidang karena memiliki persoalan dan target yang harus diselesaikan bersama.

Diperlukan prioritas. Diperlukan fokus. Diperlukan beberapa program yang dapat menjadi etalase pembuktian bahwa gagasan FORMADES bekerja di lapangan.

Karena itu, Quick Win harus dipilih bukan berdasarkan program mana yang paling mudah dilakukan, tetapi berdasarkan pertanyaan:

  • Program mana yang paling strategis untuk membuktikan visi FORMADES?
  • Program mana yang paling membutuhkan kolaborasi lintas bidang?
  • Program mana yang paling dibutuhkan masyarakat?
  • Program mana yang paling mungkin menghasilkan perubahan dalam waktu relatif pendek
  • Program mana yang dapat menjadi model untuk direplikasi?

Dengan logika tersebut, Quick Win bukan sekadar kegiatan cepat. Ia adalah instrumen akselerasi strategi sekaligus instrumen kerja kolektif organisasi.

Dari Sapta Prakarsa Menuju Strategi

Setelah arah besar melalui Sapta Prakarsa dan prioritas melalui Quick Win ditentukan, organisasi baru memasuki wilayah strategi. Strategi pada dasarnya adalah pilihan-pilihan besar tentang bagaimana target dicapai.

  • Program mana yang harus diprioritaskan?
  • Mana yang perlu diperkuat?
  • Mana yang sementara belum perlu dilakukan?
  • Apa akar persoalan?
  • Masalah mana yang paling menentukan?
  • Solusi apa yang paling tepat?

Semua pertanyaan tersebut berada dalam wilayah strategi. Karena itu, strategi bukan sekadar daftar kegiatan.

Strategi adalah cara berpikir untuk menentukan pilihan. FORMADES tidak perlu memaksakan seluruh daerah menjalankan pola kegiatan yang persis sama. Visinya tetap satu. Sapta Prakarsanya menjadi kerangka bersama. Quick Win memberikan prioritas.

Tetapi strategi implementasi dapat disesuaikan dengan persoalan dan karakter daerah. Persoalan desa di Jawa Tengah tidak selalu sama dengan persoalan desa di Lampung, Jawa Barat, atau daerah lainnya. Karena itu, arah harus satu, tetapi strategi lokal dapat kontekstual.

Inilah pentingnya memberikan ruang berpikir kepada DPD, DPC, bidang, dan PIC.

Taktik: Bagaimana Strategi Dieksekusi

Setelah strategi ditetapkan, barulah kita berbicara mengenai taktik. Taktik adalah bagaimana strategi diterjemahkan ke dalam tindakan nyata.

  • Siapa yang menjadi PIC?
  • Siapa orang yang paling tepat mengerjakan pekerjaan tertentu
  • Bagaimana menempatkan the right man on the right place?
  • Bagaimana membagi pekerjaan
  • Metode apa yang paling efektif
  • Risiko apa yang mungkin muncul
  • Bagaimana mengantisipasinya
  • Bagaimana memastikan Quick Win benar-benar menghasilkan perubahan?

Semua itu adalah pembicaraan taktis.

Dengan demikian, strategi dan taktik memang berbeda, tetapi keduanya tidak dapat dipisahkan.

Strategi menentukan pertarungan mana yang harus dimenangkan. Taktik menentukan bagaimana pertarungan tersebut dimenangkan.

Dalam organisasi sebesar FORMADES, terlebih ketika sedang membangun struktur dan mengembangkan berbagai prakarsa baru, strategi dan taktik perlu dibicarakan secara serius. Barulah setelah itu masuk ke tahap berikutnya, action plan dan program kerja.

Slogan “Harus Punya Program Kerja” Bisa Menjadi Slogan yang Menyesatkan

Ada satu kebiasaan dalam organisasi yang perlu dikritisi. Kita sering mendengar: “Organisasi harus punya program kerja.”

Sekilas tidak ada yang salah. Masalahnya muncul ketika program kerja dijadikan titik awal, sementara visi, target, analisis, strategi, dan taktik tidak pernah dibicarakan.

Akibatnya, orang sibuk membuat program karena memang diminta membuat program. Program dibuat karena tahun lalu ada program yang sama. Program dibuat karena organisasi lain melakukannya. Program dibuat karena ada format yang harus diisi. Program dibuat supaya terlihat bekerja. Akhirnya yang lahir adalah action plan copy-paste.

Banyak kegiatan, tetapi tidak jelas perubahan apa yang hendak dicapai. Banyak rapat, tetapi tidak ada keputusan strategis. Banyak laporan, tetapi tidak ada pembelajaran. Banyak program, tetapi tidak ada prioritas. Banyak aktivitas, tetapi organisasi tidak semakin dekat dengan target.

Di titik inilah kita menemukan fenomena yang ironis: program kerja padat, tetapi isi organisasi kosong. Karena itu, program kerja memang penting. Tetapi program kerja bukan titik awal.

Program kerja adalah produk akhir dari sebuah proses berpikir. Tersuruk, Tersirat, Tersurat

Proses tersebut dapat dipahami melalui tiga lapisan.

  • Tersuruk adalah sesuatu yang berada di lapisan paling dalam: visi dan target.
  • Tersirat adalah proses berpikir yang menjembatani visi dengan tindakan: analisis, strategi, dan taktik.
  • Tersurat adalah sesuatu yang tampak di permukaan: action plan dan program kerja.

Dalam konteks FORMADES, kita dapat memperjelas hubungan tersebut:

Tersuruk: Visi FORMADES dan target perubahan.

Tersirat: Sapta Prakarsa sebagai arah strategis, penentuan Quick Win sebagai prioritas, analisis, strategi, dan taktik.

Tersurat: Action plan, program kerja, kegiatan, dan eksekusi di lapangan.

Dengan demikian, Visi → Sapta Prakarsa → Target → Quick Win → Strategi/Taktik → Action Plan → Perubahan. Inilah rantai yang harus dipahami oleh seluruh jajaran FORMADES.

Jika rantai tersebut dipahami, maka program kerja di tingkat DPD, DPC, bidang, maupun PIC tidak akan berjalan sendiri-sendiri. Semuanya memiliki hubungan dengan arah besar organisasi.

DPP Tidak Boleh Menjadi Mesin Pembuat Program. Di sinilah pentingnya reposisi cara kerja kepemimpinan di FORMADES.

  • DPP tidak boleh menjadi semacam mesin pembuat program kerja untuk semua orang.
  • DPP harus menjadi pusat arah, gagasan, standar, pengembangan kapasitas, dan pengawalan strategi.
  • DPP menetapkan arah dan memastikan Sapta Prakarsa diterjemahkan dengan benar.
Baca Juga  Plt. Bupati Lampung Tengah Sosialisasikan Persiapan Pelaksanaan Pekerjaan Preservasi Jalan Marhen-Sulusuban

Bidang mengembangkan strategi sesuai mandatnya. DPD menerjemahkan arah strategis ke dalam konteks daerah.

DPC membaca persoalan lokal dan menyusun taktik. PIC menerjemahkan semuanya menjadi action plan. Dengan pembagian seperti ini, organisasi tidak menjadi sentralistik secara berlebihan. Namun juga tidak menjadi desentralistik tanpa arah.

Arah tetap satu, tetapi cara bergerak dapat menyesuaikan konteks. Quick Win Harus Menjadi Laboratorium Organisasi

Ada satu hal penting yang sering luput ketika berbicara tentang Quick Win. Quick Win jangan hanya diperlakukan sebagai program yang harus “segera selesai”.

Justru Quick Win harus menjadi laboratorium pembelajaran FORMADES. Program prioritas harus digunakan untuk menguji:

  • Apakah strategi kita benar?
  • Apakah taktik kita efektif?
  • Apakah PIC yang dipilih tepat
  • Apakah model pendampingannya bekerja?
  • Apa hambatan di lapangan?
  • Apa yang harus diperbaiki?
  • Apa yang bisa direplikasi?

Dengan begitu, Quick Win tidak berhenti sebagai kegiatan. Ia menjadi proses belajar organisasi.

Misalnya, jika Ketahanan Pangan Berbasis Keluarga dipilih sebagai salah satu Quick Win, maka yang harus dicari bukan sekadar berapa keluarga yang mengikuti program. Yang jauh lebih penting adalah: Model ketahanan pangan keluarga seperti apa yang terbukti bekerja?

Begitu pula jika Sekolah Desa menjadi Quick Win. Yang dicari bukan hanya berapa kelas yang diselenggarakan.

Pertanyaannya: Model pendidikan desa seperti apa yang mampu melahirkan kader desa yang berpikir, mampu menganalisis masalah, dan mampu melakukan perubahan?

Demikian pula dengan Posbakum FORMADES. Yang diukur bukan sekadar berapa kegiatan penyuluhan hukum yang dilakukan. Tetapi, apakah masyarakat semakin memiliki akses terhadap keadilan dan semakin mampu memahami serta menyelesaikan persoalan hukumnya?

Inilah perbedaan antara program yang sibuk dan program yang strategis.

Pemimpin FORMADES Harus Menciptakan Pemimpin FORMADES

Jika setiap persoalan di FORMADES selalu harus diselesaikan oleh segelintir orang di tingkat pusat, maka organisasi akan mengalami ketergantungan.

Ketergantungan adalah tanda bahwa kapasitas organisasi belum tersebar. Karena itu, ukuran keberhasilan kepemimpinan di FORMADES bukan hanya seberapa banyak program yang berhasil dilaksanakan oleh pimpinan.

Ukuran yang jauh lebih penting adalah: Berapa banyak orang baru yang sekarang mampu berpikir dan bekerja tanpa harus selalu menunggu instruksi?

Pemimpin efektif adalah pemimpin yang menciptakan pemimpin lain. Maka seorang Ketua DPP tidak semestinya hanya bertanya kepada bidang:

  • “Apa program kerja kalian?” Tetapi juga: “Apa target bidang kalian?
  • “Apa persoalan yang hendak kalian selesaikan?”
  • “Apa analisis kalian?”
  • “Apa strategi yang kalian pilih?”
  • “Mengapa Quick Win ini yang dipilih?”
  • “Apa taktik yang akan digunakan?”

Setelah semua itu jelas, barulah: “Silakan buat action plan.” Ini bukan sekadar perubahan cara bertanya. Ini adalah perubahan budaya organisasi. Orang tidak lagi dididik menjadi pelaksana instruksi. Mereka dididik menjadi pengambil keputusan.

Sekolah Desa Harus Menjadi Sekolah Berpikir

Dalam kerangka Sapta Prakarsa dan Quick Win, Sekolah Desa harus ditempatkan secara strategis. Sekolah Desa jangan diposisikan hanya sebagai program pelatihan. Ia harus menjadi salah satu instrumen untuk membangun budaya berpikir FORMADES.

Orang desa tidak cukup hanya diajari bagaimana membuat program. Mereka harus belajar membaca persoalan. Membedakan gejala dan akar masalah. Menentukan prioritas. Menyusun strategi. Membuat taktik. Dan setelah itu menyusun program.

Dengan demikian, Sekolah Desa bukan hanya mencetak orang yang tahu tentang desa. Ia harus mencetak orang yang mampu berpikir untuk desanya.

Begitu pula dengan sistem kaderisasi FORMADES. Kaderisasi tidak boleh berhenti pada perekrutan anggota atau pengisian struktur.

Kaderisasi harus menghasilkan manusia yang mampu mengambil tanggung jawab, membaca situasi, membuat keputusan, dan memimpin.

Dengan kata lain: FORMADES tidak boleh hanya membangun struktur. FORMADES harus membangun manusia yang mampu menghidupkan struktur.

Pemimpin Berbicara 80 Persen Konsep, 20 Persen Teknis

Karena itu, prinsip 80 persen konsep dan 20 persen teknis menjadi relevan. Pemimpin puncak harus lebih banyak berbicara mengenai visi, target, substansi, strategi, dan arah organisasi. Tetapi ketika sebuah program masih baru dirintis, pemimpin perlu turun lebih jauh ke wilayah taktis.

Dalam penyusunan materi Kelas Kepanitiaan, misalnya, ketika program masih berada dalam tahap perintisan, diperlukan masukan taktis: menanyakan persoalan kepanitiaan di daerah, menentukan siapa yang mengerjakan materi, membentuk tim, sampai mempertimbangkan streaming ketika bedah materi dilakukan.

Tetapi setelah sistem tersebut berjalan, pemimpin harus mulai mundur. Bukan karena tidak peduli. Justru karena percaya kepada orang yang telah diberi tanggung jawab.

Action plan dan program kerja adalah wilayah PIC.

Pemimpin cukup memastikan semuanya tetap berada dalam koridor target dan strategi. Jika ada persoalan teknis, biarkan ahli taktik menyelesaikannya.

Baca Juga  Pernah Tugas di KPK, Budi Nugraha, SH., MH., Kini Menjabat Aspidsus Kejati Lampung

Jika tidak memiliki ahli taktik, tugas pemimpin adalah mencari dan menciptakannya.

FORMADES Harus Naik Kelas: Dari Organisasi Kegiatan Menjadi Organisasi Pembelajaran

Inilah tantangan besar FORMADES ke depan. FORMADES harus naik kelas dari sekadar organisasi yang menyelenggarakan kegiatan menjadi organisasi yang menghasilkan pembelajaran.

  • Sapta Prakarsa memberikan arah.
  • Quick Win memberikan ruang untuk menguji arah tersebut.

Strategi menentukan bagaimana pengujian dilakukan. Taktik menentukan bagaimana eksekusinya. Evaluasi menentukan apa yang dipelajari. Kemudian pembelajaran tersebut dikembangkan menjadi model.

Model yang berhasil direplikasi. Dan model yang terbukti efektif dapat menjadi rekomendasi kebijakan. Dengan pola seperti itu, kerja organisasi menjadi siklus: Visi → Prakarsa → Prioritas → Strategi → Taktik → Implementasi → Evaluasi → Pembelajaran → Inovasi → Replikasi → Kebijakan.

Di sinilah fungsi Litbang dan Inovasi menjadi penting. Ia tidak boleh hanya menjadi bidang yang menghasilkan dokumen kajian. Ia harus menjadi salah satu mesin pembelajaran organisasi.

Sebab organisasi yang kuat bukan organisasi yang tidak pernah salah. Organisasi yang kuat adalah organisasi yang mampu belajar dari kesalahan dan mengubah pembelajaran menjadi sistem.

Pemimpin Tidak Harus Menjadi Orang Paling Sibuk

Ada anggapan bahwa pemimpin yang baik adalah pemimpin yang paling sibuk. Datang paling pagi. Pulang paling akhir. Menghadiri semua rapat. Membalas semua pesan. Memeriksa semua pekerjaan. Mengetahui semua detail. Anggapan tersebut tidak selalu benar.

 

Ada perbedaan antara sibuk bekerja dan bekerja sebagai pemimpin. Jika semua persoalan FORMADES selalu berakhir di meja pimpinan pusat, ada yang harus dievaluasi.

Jika semua keputusan harus menunggu DPP, ada yang harus diperbaiki.

Jika DPD dan DPC hanya menunggu instruksi, ada yang harus dibenahi.

Jika PIC tidak berani mengambil keputusan tanpa persetujuan pimpinan, berarti kapasitas kepemimpinan belum tersebar.

Pemimpin yang hebat bukanlah orang yang membuat dirinya tidak tergantikan.

Pemimpin yang hebat justru menciptakan begitu banyak orang yang mampu menggantikannya.

Lalu Apa Pekerjaan Pemimpin FORMADES?

Jika suatu saat FORMADES sudah memiliki bidang yang mandiri, DPD yang mampu berpikir, DPC yang mampu membaca persoalan lokal, PIC yang mampu menyusun taktik, serta kader yang mampu memimpin programnya sendiri, lalu apa pekerjaan pemimpin puncak?

Justru di situlah pekerjaan pemimpin menjadi semakin penting.

  • Mencari peluang baru.
  • Membaca perubahan kebijakan nasional.
  • Membangun jaringan.
  • Menemui pemerintah.
  • Menemui akademisi.
  • Menemui komunitas.
  • Mencari mitra baru.
  • Mencari bakat baru.
  • Mencari ilmu baru.
  • Membaca buku.
  • Berpikir.
  • Merenung.
  • Membangun gagasan.
  • Dan memastikan FORMADES tidak kehilangan arah.

Pemimpin puncak harus memiliki cukup waktu untuk melihat sesuatu yang belum dilihat oleh organisasi. Sebab jika pemimpin terlalu sibuk mengurus hal-hal teknis sehari-hari, siapa yang memikirkan lima tahun ke depan?

FORMADES dan Masa Depan Organisasi

FORMADES hari ini sedang berada pada titik penting.

  1. Ada struktur yang harus diperkuat.
  2. Ada kader yang harus dibangun.
  3. Ada Sapta Prakarsa yang harus diterjemahkan menjadi arah strategis.
  4. Ada Quick Win yang harus dibuktikan. Ada sistem organisasi yang harus diperkuat.
  5. Ada jaringan yang harus diperluas.
  6. Ada model-model program yang harus diuji.

Semua itu membutuhkan kerja. Tetapi yang lebih dibutuhkan adalah kerja yang memiliki arah.

Karena itu, FORMADES tidak boleh terjebak dalam perlombaan menjadi organisasi yang paling banyak kegiatan. FORMADES harus bercita-cita menjadi organisasi yang paling jelas arah perubahannya, paling kuat pembelajarannya, dan paling banyak melahirkan manusia yang mampu memimpin.

Sebab pada akhirnya, kekuatan sebuah organisasi bukan terletak pada banyaknya program yang tertulis dalam dokumen. Kekuatan organisasi terletak pada kemampuan manusia di dalamnya untuk memahami mengapa sesuatu harus dilakukan, apa yang harus dipilih, bagaimana cara melakukannya, dan kapan harus menyerahkan pekerjaan kepada orang lain.

Maka prinsipnya kembali pada satu urutan:

  1. Visi dan target harus melahirkan arah.
  2. Sapta Prakarsa harus menerjemahkan arah menjadi kerangka strategis.
  3. Quick Win harus menjadi prioritas akselerasi.
  4. Strategi harus menentukan pilihan.
  5. Taktik harus menentukan cara.
  6. Action plan harus menerjemahkan semuanya menjadi pekerjaan.
  7. Pekerjaan harus menghasilkan perubahan.
  8. Perubahan harus menghasilkan pembelajaran.

Jika rantai ini berjalan, FORMADES bukan hanya akan memiliki banyak program. FORMADES akan memiliki sistem berpikir.

Jika sistem berpikir itu hidup, organisasi tidak akan tergantung pada satu-dua orang. Ia akan melahirkan pemimpin baru. Dan jika pemimpin baru terus dilahirkan, maka FORMADES tidak hanya sedang membangun organisasi untuk hari ini.

FORMADES sedang membangun organisasi yang mampu bertahan, belajar, berkembang, dan memimpin perubahan desa dalam jangka panjang.

Pada akhirnya, barangkali inilah makna kepemimpinan yang paling sederhana: “Pemimpin tidak bekerja untuk membuat dirinya semakin diperlukan. Pemimpin bekerja agar semakin banyak orang mampu berpikir, mengambil keputusan, dan memimpin.”

Dan mungkin, ukuran keberhasilan FORMADES bukanlah seberapa banyak orang yang bekerja untuk FORMADES. Melainkan seberapa banyak orang yang setelah belajar di FORMADES, kemudian mampu menjadi pemimpin di tempatnya masing-masing.

Posting Terkait

Jangan Lewatkan