Merdeka 81 Tahun, Penambang Belitung Timur Masih Antre Demi Timah Sendiri

Berita, Daerah114 Dilihat
banner 468x60

DENYUT RAKYAT, BELITUNG TIMUR – Semakin hari semakin dipersulit. Itu bukan keluhan, itu fakta di lapangan Belitung Timur hari ini.

Katanya harga timah dinaikkan. Tapi yang dirasakan masyarakat? Antrian berdesakan di GBT karena daya tampung terbatas. Barang yang bisa dijual terbatas, karena penyerapan PT Timah terkendala RKAB belum terbit

Ditambah lagi harga di tingkat kolektor malah ditekan murah, sementara di gudang kolektor stok disebut melimpah.

Puncaknya pada Jum’at tanggal  7 Agustus 2026, ribuan penambang sampai geruduk Kantor PT Timah dan GBT Gantung. Penyebabnya simpel, rantai jual putus. Banyak kolektor berhenti beli karena takut penindakan hukum. PT Timah sendiri belum mampu serap semua karena kapasitas GBT dan RKAB yang masih penyesuaian.

Yang bikin miris: Negara di atas kertas menang, rakyat di bawah kalah. Pemerintah targetkan tutup 1.000 tambang ilegal dan sita 6 smelter hasil korupsi Rp300 T. Harga timah dunia bahkan diproyeksi ke US$40.000/ton di 2026.

Tapi di lapangan, penambang rakyat harga jualnya masih ditekan sampai Rp90 ribu – Rp120 ribu/kg oleh oknum. Padahal kesepakatan resminya Rp300 ribu/kg kadar SN 70.

Legal vs Ilegal, adu banteng di punggung rakyat. PT Timah sendiri akui kalah bersaing karena harus bayar pajak, royalti, reklamasi. Sementara penambang ilegal tidak. Akibatnya produksi resmi turun 32% di semester I-2025.

Efek domino. Saat timah macet, ekonomi Belitung Timur ikut lumpuh. Pelaku usaha, angkutan, UMKM, daya beli semua terpukul. Bahkan Pertalite ikut langka karena diserap mesin tambang rakyat.

Hari kemerdekaan ke-81 sudah di depan mata. Tapi di Belitung Timur, masyarakat masih “dijajah” oleh sistem: Dijajah antrian. Dijajah aturan RKAB. Dijajah harga yang dipermainkan tengkulak. Dijajah ketidakpastian hukum karena banyak rumah, sekolah, kebun masuk kawasan IUP tapi tidak produktif.

Baca Juga  Walikota Eva Dwiana Dikabarkan Kabur, Saat Kantor Pemkot Bandar Lampung Digeruduk Aksi Demontran

Masyarakat tidak minta belas kasihan, melainkan mereka minta keadilan. Negara harus hadir untuk berpihak pada rakyat. Tuntutan dan harapan masyarakat Belitung Timur;

  1. Serap hasil tambang rakyat, dengan mekanisme yang pasti, bukan lempar ke kolektor lalu lepas tangan.
  2. Tindak tegas pembeli curang yang mainkan harga
  3. Benahi tata kelola IUP dan RKAB, agar tidak ada lagi lahan tidur yang merugikan daerah
  4. Libatkan Koperasi Desa Merah Putih, untuk memutus rantai tengkulak.

Semoga ke depan perekonomian masyarakat Belitung Timur bisa normal kembali. Penjualan hasil tambang lancar, tidak ada lagi antrian panjang, tidak ada lagi harga yang dipermainkan.

Karena kemerdekaan sejati adalah ketika rakyat bisa bekerja dengan tenang dan makan dari hasil keringat sendiri.

Posting Terkait

Jangan Lewatkan