![]() |
| Suana anak-anak belajar mengaji di surau atau langgar (mushola). |
MAGELANG, DENYUTrakyat — Doeloe dunia tak se moderen sekarang, belum ada tekhnologi internet seperti saat ini yang mampu melihat dunia dalam genggaman. Sarana hiburan masih sangat sederhana, alat komunikasi antar kampung masih pakai kentongan.
Radio dan Televisi masih termasuk barang mewah, penerangan masih sangat minim, senter dan obor menjadi alat penerangan ketika berpergian dimalam hari. Sepeda ontel sebagai alat transportasi, itu pun masih sedikit warga kampung yang punya.
Disurau atau langgar (mushola kecil) masih berdinding geribik (ayaman bambu) dan tikar sebagai alas duduk diatas lantai tanah, lampu semprong menjadi alat penerang beberapa anak – anak kampung belajar mengaji turutan (belum disebut iqra) atau belajar mengenal dan melafalkan huruf Hijaiyah.
Seorang pria tengah baya menjadi satu-satunya guru mengaji yang biasa dipanggil Mbah Yayie atau Romo Guru.
Dengan kesabaran yang sangat tinggi guru ngaji atau seorang ustadz yang sederhana, tidak rupawan, tidak ahli ceramahan, tidak punya gelar yg hebat, tidak dikenal banyak orang, tidak pernah tampil di tv, radio dan koran, dan mungkin penampilannya kampungan, menjadi pembimbing belajar membaca Qur’an sekaligus mendidik agar hidup beradab dan bermoral serta berakhlak mulia.
Tetapi ingatlah 8 jasa-jasa luar biasa dari guru ngaji yang mendidik dan membimbing menjadi manusia yang bertaqwa, beradab dan berakhlak mulia.
- Jika iman adalah jalan keselamatan, ketenangan dan kebahagiaan dunia akhirat. maka ingat, guru ngaji lah yang menanamkan iman.
- Jika isi otak, hati dan jiwa manusia lebih utama daripada isi perut manusia. maka ingat, guru ngajilah yang telah mengisi ilmu dan ruhiyah otak, hati dan jiwa.
- Jika kebahagian lahir batin dan selamat dunia akhirat menjadi ukuran suksesnya manusia. Maka ingat, guru ngajilah yang gigih mengarahkan ke jalan keselamatan tersebut.
- Jika orangtua hanya menyuruh untuk beribadah, maka guru ngajilah yang mengajarkan segala macam ilmu dan tata cara ibadah
- Jika Al-Qur’an adalah pedoman hidup, lezat membacanya, nikmat mentadabburinya, manfaat mengamalkannya. Maka ingat, guru ngajilah yang dulu susah payah mengajarkannya.
- Jika dekat dengan Allah adalah sebaik-baiknya keadaan, maka ingat, guru ngajilah yang mendekatkan manusia kepada-NYA.
- Jika sekarang banyak orang mensyukuri ke sholehan dirinya, pasangan dan keturunannya. Maka ingat, guru ngajilah yang menjadi asbab ke sholehan tersebut.
- Jika karena akhlak mulia, menjadi disukai orang-orang, banyak teman, banyak saudara, dimudahkan segala perkara. Maka ingat guru ngajikah yang mengajarkan akhlak mulia itu.
Insya Allah ilmu yang bermanfaat akan menjadi amal soleh dan jariah sampai hari kiamat nanti, terima kasih guru ngaji yang mulia, semoga apa yang telah guru ngaji perbuat menjadi amal Sholeh dan amal Jariyah mereka, setelah kembali kepada Penciptanya. (Bgs*)




















