Dari Ruang Rapat ke Ruang Kesadaran: Sekolah Rakyat Gagasan Tan Malaka

Beranda, Fokus95 Dilihat
banner 468x60

DENYUT RAKYAT | Pada 1921, Tan Malaka tiba di Semarang. Sebelumnya ia telah merasakan sendiri kerasnya pendidikan kolonial sebagai guru di sebuah perusahaan perkebunan di Deli. Di sanalah ia menyaksikan dengan mata kepala sendiri: sekolah yang ada tidak pernah diniatkan untuk memerdekakan manusia. Ia hanya mencetak pekerja yang patuh, bukan rakyat yang berpikir.

Kesadaran itu membawanya bertemu para pemimpin Sarekat Islam dalam Kongres SI di Yogyakarta pada tahun yang sama. Dari pertemuan itu, Tan Malaka dititipi amanah. Memimpin sebuah sekolah yang hendak didirikan di Semarang.

Pada Maret 1921, Sarekat Islam Semarang memutuskan mendirikan sekolahnya sendiri. Tanggal 21 Juni 1921, pintu sekolah itu dibuka. Sekitar 50 anak duduk di ruang rapat SI, Gedung Sarikat Islam di Kp. Gendong Utara. Kursi dan meja sederhana. Tapi di dalamnya ada niat yang besar.

Sekolah ini diprioritaskan untuk anak-anak anggota SI dan anak-anak bumiputra yang tertutup aksesnya oleh sekolah pemerintah kolonial. Sejak awal, ia tidak dimaksudkan hanya untuk mengeja dan berhitung. Sekolah ini hendak menjadi tempat pulang bagi akal dan martabat rakyat.

Pendidikan yang Menyentuh Hidup

Tan Malaka menyebutnya pendidikan kerakyatan. Baginya, membaca tanpa memahami penderitaan di sekitar adalah sia-sia. Menulis tanpa menyadari kedudukan diri di tengah masyarakat adalah kosong.

Gagasan itu ia tulis dalam SI Semarang dan Onderwijs, 1921. Dan gagasan itu ia hidupi di kelas.

Karena itu, pelajaran di Sekolah SI melampaui dasar. Murid belajar ilmu bumi agar mengenal tanah tempat mereka berpijak. Belajar bahasa Belanda, Melayu, dan Jawa agar tidak buta terhadap dunia luar maupun akar sendiri. Belajar pengetahuan praktis agar bisa hidup.

Baca Juga  Vatikan Tolak Board of Peace Trump, Indonesia Tegaskan Peran Aktif di Gaza

Lebih dari itu, Tan Malaka mendorong murid membentuk perkumpulan. Sekolah dijadikan ruang berlatih: berorganisasi, bekerja bersama, dan berani menyuarakan pikiran. Di sinilah anak-anak tidak hanya diajari pelajaran, tetapi diajari menjadi manusia yang berdiri.

Menjadi Guru bagi Rakyat

Pada 1922, sekolah melangkah lebih jauh. Pendidikan kejuruan mulai dikembangkan. Pendidikan guru pun dibuka. Tan Malaka turun langsung. Ia tahu, sebuah sekolah rakyat tidak akan hidup jika tidak ada guru yang memahami jiwanya.

Maka sekolah ini tidak hanya mendidik murid. Ia juga menumbuhkan benih-benih pendidik baru. Orang-orang yang kelak akan membawa cahaya yang sama ke kampung-kampung lain.

Tentu, jalan ini tidak mudah. Pemerintah kolonial memandang Sekolah SI dengan curiga. Ia dianggap berbeda. Ia dianggap berbahaya karena berani menanamkan kesadaran sosial dan cita-cita kemerdekaan. Namun tekanan itu tidak memadamkan. Justru di Semarang kita melihat bukti: perjuangan bisa dimulai dari bangku kayu, dari papan tulis, dari keberanian mengajar yang jujur.

Warisan yang Melampaui Bangunan

Peran Tan Malaka di Semarang meninggalkan jejak yang tidak bisa dihapus oleh waktu. Ia menunjukkan bahwa pendidikan sejati lahir dari kebutuhan rakyat: biaya yang terjangkau, ilmu yang berguna, ruang untuk tumbuh bersama, dan kesadaran bahwa belajar adalah cara memahami masyarakat.

Dalam sejarah pendidikan Indonesia, Sekolah Sarekat Islam Semarang adalah salah satu percobaan awal yang paling jujur. Dan Tan Malaka adalah nyala di dalamnya.

Setelah itu, ia terus berjalan. Memegang teguh kemerdekaan 100%. Menolak kompromi yang melemahkan revolusi. Sikap itu mempertemukannya dengan pahitnya politik. Hingga pada 21 Februari 1949, ia ditangkap dan dieksekusi tanpa pengadilan di Selopanggung, Kediri.

Kematian Tan Malaka mengingatkan kita. Revolusi bukan hanya soal senjata. Ia juga soal gagasan. Dan kadang, mereka yang memperjuangkan hal yang sama bisa saling berhadapan karena berbeda jalan.

Baca Juga  Dari Desa, Oleh Desa, Untuk Indonesia: Formades Jabar Siapkan Musda Perdana di Tengah Keterbatasan

Tapi satu hal yang tidak pernah padam dari Semarang: keyakinan bahwa rakyat berhak dididik, dan pendidikan adalah jalan paling sunyi namun paling kokoh menuju merdeka.

Posting Terkait

Jangan Lewatkan