Masril Koto: Putus Sekolah Kelas 4 SD, Membangun Jalan Kemandirian Petani Indonesia

"Kemiskinan tidak akan selesai hanya dengan bantuan. Yang dibutuhkan adalah kepercayaan, pengetahuan, dan kesempatan." Gagasan itulah yang mewarnai perjalanan hidup Masril Koto.

Serbaserbi89 Dilihat
banner 468x60

Oleh: Yoseph Heriyanto

DENYUT RAKYAT | Sulit dipercaya, tokoh yang namanya dikenal sebagai salah satu pelopor kewirausahaan sosial Indonesia ini hanya mengenyam pendidikan formal hingga kelas 4 Sekolah Dasar. Masa kecilnya diwarnai kemiskinan. Ia pernah menjadi pemulung, penjual gorengan, buruh angkut di pasar, hingga membantu berbagai pekerjaan kasar demi menyambung hidup.

Namun, justru dari pengalaman itulah ia memahami satu hal: orang miskin bukan kekurangan kemampuan, melainkan kekurangan akses dan kepercayaan.

Masril Koto lahir di Kecamatan Baso, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, dari keluarga sederhana. Ayahnya bekerja sebagai tukang kayu, sedangkan ibunya buruh tani. Kondisi ekonomi membuatnya berhenti sekolah ketika masih duduk di kelas 4 SD.

Bagi sebagian orang, itu mungkin menjadi akhir dari mimpi. Bagi Masril, justru menjadi awal perjalanan belajar yang sesungguhnya.

Ia menjadikan pasar sebagai ruang belajar, sawah sebagai laboratorium kehidupan, dan setiap orang yang ditemuinya sebagai guru. Ia percaya bahwa pendidikan formal memang penting, tetapi semangat belajar tidak boleh berhenti ketika seseorang meninggalkan bangku sekolah.

Kebiasaan membaca, berdiskusi, dan mengamati kehidupan masyarakat membuat cara berpikirnya terus berkembang, meskipun tanpa ijazah tinggi.

Ketika kembali ke kampung halamannya setelah krisis ekonomi 1998, Masril menemukan kenyataan yang terus berulang. Petani bekerja paling keras, tetapi memperoleh keuntungan paling kecil.

Mereka sulit memperoleh pinjaman dari perbankan karena tidak memiliki agunan. Akibatnya, banyak petani bergantung kepada tengkulak atau rentenir. Hasil panen bahkan sering sudah “terjual” sebelum dipetik.

Masril melihat persoalan tersebut bukan sekadar masalah modal. Menurutnya, akar persoalannya adalah lemahnya kelembagaan ekonomi petani. Selama petani tidak memiliki institusi yang mereka kelola sendiri, mereka akan terus berada pada posisi yang lemah.

Baca Juga  Umi Sardjono: Perempuan yang Dihapus oleh Negara

Pemikiran inilah yang kemudian melahirkan gagasan Bank Petani melalui model Lembaga Keuangan Mikro Agribisnis (LKMA).

Gagasan Masril sederhana, tetapi pada masanya sangat berani. Bank tidak harus dimiliki pemodal besar. Petani juga bisa memiliki lembaga keuangan sendiri.

Modal berasal dari tabungan petani. Pengelola dipilih dari masyarakat setempat dan dilatih secara profesional. Keuntungan dikembalikan untuk memperkuat ekonomi anggota.

Pada awalnya, banyak pihak meragukan konsep tersebut. Sebagian menganggap petani tidak akan mampu mengelola lembaga keuangan dengan baik. Namun, keraguan itu perlahan berubah menjadi sebuah pengakuan.

Model LKMA berkembang di berbagai daerah dan melayani lebih dari 100.000 petani melalui ratusan unit kelembagaan. Aset yang berhasil dihimpun pun mencapai jutaan dolar AS, seluruhnya dibangun dari semangat gotong royong dan kepercayaan masyarakat.

Keberhasilan itu kemudian menjadi salah satu inspirasi bagi pengembangan Program Pengembangan Usaha Agribisnis Perdesaan (PUAP) yang dijalankan pemerintah.

Bagi Masril, membangun bank hanyalah alat. Tujuan utamanya adalah mengubah cara berpikir petani.

Petani harus percaya bahwa mereka mampu mengelola usaha, mengambil keputusan ekonomi, dan menjadi pemilik masa depan mereka sendiri.

Karena itu, ia juga mendorong lahirnya sekolah lapang, pelatihan kewirausahaan, perpustakaan desa, gerakan membaca, hingga pendidikan kepemimpinan bagi generasi muda desa.

Ia percaya bahwa modal finansial akan habis jika tidak disertai modal pengetahuan.

Dedikasinya dalam membangun model pemberdayaan masyarakat menarik perhatian dunia internasional.

Pada tahun 2011, Masril Koto terpilih sebagai Ashoka Fellow, sebuah pengakuan bergengsi bagi para inovator sosial yang dinilai berhasil menciptakan perubahan sistemik di masyarakat.

Penghargaan tersebut menempatkan Masril sejajar dengan para wirausahawan sosial dari berbagai negara yang berhasil membangun solusi atas persoalan-persoalan sosial melalui inovasi yang berkelanjutan.

Baca Juga  Viral di Internal Kementerian! Pegawai Gugat Menteri HAM Natalius Pigai Usai Diduga Demosi Sepihak

Kepercayaan publik juga membawanya dipercaya mengisi berbagai posisi strategis, termasuk sebagai komisaris di sejumlah perusahaan serta menjadi narasumber berbagai forum nasional maupun internasional.

Kisah Masril Koto menyimpan pelajaran penting bagi pembangunan Indonesia.

Selama ini, banyak program pemberdayaan masyarakat masih bertumpu pada penyaluran bantuan atau subsidi. Padahal, pengalaman Masril menunjukkan bahwa perubahan yang bertahan lama lahir ketika masyarakat diberi kesempatan membangun kelembagaannya sendiri.

Negara memang memiliki peran penting sebagai fasilitator, regulator, dan penyedia kebijakan. Namun, pembangunan akan jauh lebih berkelanjutan apabila masyarakat menjadi subjek utama, bukan sekadar penerima program.

Dalam perspektif kebijakan publik, model yang dibangun Masril memperlihatkan bahwa pemberdayaan berbasis kelembagaan lokal mampu menciptakan kemandirian ekonomi, memperkuat modal sosial, dan meningkatkan posisi tawar masyarakat secara berkelanjutan.

Masril Koto membuktikan bahwa keberhasilan tidak selalu lahir dari ruang kuliah, gelar akademik, atau kekuasaan.

Ia lahir dari sawah, dibesarkan oleh kemiskinan, ditempa oleh kerasnya kehidupan, lalu memilih kembali ke desa untuk membangun harapan bagi para petani.

Di tengah berbagai tantangan pembangunan pertanian Indonesia saat ini, kisahnya menjadi pengingat bahwa solusi tidak selalu harus datang dari atas. Sering kali, jawaban justru tumbuh dari masyarakat yang memahami persoalannya sendiri.

Dari seorang anak yang hanya tamat kelas 4 SD, Masril Koto menjelma menjadi salah satu ikon wirausaha sosial Indonesia. Warisan terbesarnya bukan hanya ratusan lembaga yang berhasil dibangun atau berbagai penghargaan yang diraih, melainkan keyakinan bahwa ketika rakyat diberi kepercayaan, mereka mampu mengubah nasibnya sendiri.

Itulah sebabnya, kisah Masril Koto bukan sekadar cerita tentang kesuksesan seorang individu. Ia adalah pelajaran berharga tentang kepemimpinan, keberanian berinovasi, dan pentingnya membangun kemandirian masyarakat sebagai fondasi pembangunan bangsa.

Posting Terkait

Jangan Lewatkan