Ahmad Basri: Ketua Kajian Kritis Kebijakan Publik Pembangunan – K3PP
DENYUT RAKYAT | Jabatan sejatinya adalah amanah bukan berhala. Jabatan seharusnya menjadi ruang pengabdian untuk melayani kepentingan rakyat, bukan panggung pemujaan yang membuat manusia kehilangan martabat dan akal sehatnya.
Dalam realitas sosial-politik, jabatan sering kali berubah menjadi pusat gravitasi kekuasaan yang melahirkan satu fenomena klasik yang tak pernah mati: penjilat jabatan
Penjilat jabatan adalah potret manusia yang rela menggadaikan nalar kritis, integritas, bahkan harga dirinya demi mendekat dan tetap berada di lingkaran kekuasaan.
Mereka tidak lagi berdiri tegak sebagai pribadi yang merdeka berpikir, melainkan berubah menjadi sekadar gema yang hanya memantulkan suara sang atasan.
Benar atau salah tak lagi menjadi ukuran utama. Yang terpenting hanyalah satu hal: bagaimana caranya menyenangkan hati pemegang kuasa apa pun caranya.
Di titik inilah, setengah akal sehat mereka hilang. Mengapa hanya setengah? Bukan karena mereka bodoh, melainkan karena mereka masih sempurna dalam berpikir—namun pikiran itu tidak lagi dipakai untuk mencari kebenaran.
Akal mereka bekerja bukan untuk memperjuangkan nilai atau keadilan, melainkan semata-mata merancang strategi agar tetap aman, tetap dekat, dan tetap diuntungkan.
Mereka paham betul ketika kebijakan yang diambil itu keliru. Mereka tahu saat pemimpin melangkah salah. Mereka sadar betul bila rakyat dirugikan. Namun, mereka memilih untuk diam, bahkan dengan cerdik memoles kesalahan itu seolah-olah merupakan prestasi gemilang yang patut dipuji.
Fenomena penjilatan jabatan bukan sekadar masalah perilaku individu, melainkan sudah menjadi penyakit budaya dalam tubuh birokrasi dan politik kita.
Penjilat tumbuh subur dan berakar kuat di lingkungan di mana loyalitas buta jauh lebih dihargai daripada kompetensi, di mana kritik dianggap sebagai ancaman dan di mana kejujuran justru diposisikan sebagai bentuk pembangkangan.
Dalam sistem seperti ini, orang-orang yang cerdas dan berintegritas sering kali tersingkir, disingkirkan, atau dipinggirkan hanya karena dianggap terlalu jujur dan sulit diatur.
Sebaliknya, mereka yang pandai menabur pujian kosong, pandai menunduk tanpa prinsip, dan pandai mengamini segala keputusan meski merusak, justru yang mendapat tempat.
Penjilat jabatan sering kali hadir dengan wajah yang sangat sopan, bahasa yang sangat santun dan gestur tubuh yang penuh hormat.
Di balik senyum manis dan sikap tunduk itu, tersembunyi ambisi yang tak berdasar: mengincar akses, mengamankan posisi, berebut proyek, dan mengumpulkan berbagai hak istimewa.
Bagi mereka, kesetiaan bukan ditujukan pada nilai pengandian, melainkan ditujukan semata pada keuntungan pribadi. Hari ini mereka rela memuja satu kekuasaan dengan berlebihan, besok jika keadaan berubah, mereka bisa berbalik arah dan menyembah penguasa baru dengan semangat yang sama.
Prinsip hidup mereka sangat sederhana: ke mana jabatan berlabuh, ke sanalah loyalitas diarahkan. Dalam kondisi makro ini sangat berbahaya bagi masa depan bangsa.
Pemimpin yang dikelilingi oleh para penjilat akan hidup dalam kubangan ilusi. Pemimpin akan merasa dirinya selalu benar, selalu hebat, dan selalu dicintai rakyat, padahal yang mengelilinginya bukanlah kejujuran, melainkan sekadar kepentingan yang bertopengkan kesetiaan.
Akibat fatalnya, kekuasaan kehilangan koreksi, kebijakan yang diambil makin menjauh dari realitas, dan pada akhirnya rakyatlah yang menjadi korban utama. Lebih ironis lagi, untuk menjaga posisi dan kedekatannya, penjilat jabatan sering kali tak segan mengorbankan sesama manusia.
Mereka bisa dengan mudah menjatuhkan rekan kerja yang kritis, memfitnah mereka yang kompeten dan jujur, bahkan rela menjadi alat pembunuh karakter, semua semata-mata untuk menunjukkan betapa setianya mereka kepada penguasa.
Padahal sejarah telah berulang kali mengajarkan kita, banyak kekuasaan besar yang runtuh bukan semata karena serangan musuh dari luar, melainkan karena kebusukan yang tumbuh dari dalam.
Runtuh karena para penjilat telah menciptakan ruang hampa kebenaran di sekeliling pemimpin. Pemimpin yang besar pun bisa jatuh ketika lebih suka mendengar pujian palsu daripada mendengar peringatan yang jujur.
Ada satu refleksi penting yang harus kita tanamkan: jabatan itu sifatnya sementara, tetapi kehormatan untuk berpikir dan berkata benar adalah milik abadi yang tak bisa dirampas.
Apa gunanya dekat dengan kekuasaan jika kita harus kehilangan keberanian moral? Untuk apa bersusah payah memperoleh posisi tinggi jika harus mengorbankan akal sehat dan nurani kita sendiri? Sebab pada akhirnya, manusia yang tak punya keberanian untuk berkata benar hanyalah menjadi alat bagi orang lain.
Masyarakat dan bangsa ini sesungguhnya sangat membutuhkan lebih banyak pribadi yang merdeka. Orang-orang yang berani menghormati pemimpin tanpa harus menjilatnya, yang berani bersikap loyal tanpa kehilangan logika berpikir, dan yang berani mengkritik demi perbaikan.
Karena demokrasi yang sehat dan negara yang maju tidak dibangun di atas puing-puing kejujuran oleh para pemuja jabatan. Namum dibangun dan dijaga oleh manusia-manusia yang tetap waras, tetap kritis, dan tetap bermartabat dihadapan kekuasaan.
Pada akhirnya, penjilat jabatan adalah cermin buruk yang menunjukkan bahwa sebagian manusia memang rela kehilangan setengah akal sehatnya, hanya demi mendapatkan separuh kursi kekuasaan yang bisa hilang dalam sekejap.
Mereka lupa satu hal jabatan memang bisa memberi kedudukan dan gengsi sesaat, tetapi jabatan tidak selamanya mampu memberi kehormatan yang sejati.
Dan ketika akal sehat serta nurani dikorbankan demi mengejar jabatan, maka yang tersisa hanyalah tubuh yang masih bernapas—tetapi telah kehilangan kemerdekaan berpikir selamanya.


















