SUMEDANG, denyut rakyat – Kabupaten Sumedang seperti sedang menerima tamu lama yang pulang membawa semangat baru. Selama dua hari, 15–16 Mei 2026, ruang Musyawarah Daerah (MUSDA) FORMADES Jawa Barat bukan hanya dipenuhi sidang organisasi dan pergantian kepengurusan.
Di dalamnya, ada percakapan panjang tentang desa, masa depan rakyat kecil, dan kegelisahan terhadap arah pembangunan yang makin jauh dari akar masyarakat.
FORMADES Jawa Barat akhirnya resmi memiliki nahkoda baru. H. Aam Sofyan ditetapkan sebagai Ketua DPD FORMADES Jawa Barat setelah melalui rangkaian sidang pleno dan pembahasan komisi yang berlangsung hangat dan penuh dinamika.
Namun yang paling membekas bukan sekadar hasil pemilihannya. Ada satu momen yang membuat forum itu terasa lebih dalam dari sekadar agenda organisasi: penyerahan Bendera Pataka FORMADES.
Di hadapan peserta MUSDA dari berbagai daerah, Ketua Umum FORMADES, Junaidi Farhan, menyerahkan langsung panji kehormatan organisasi kepada H. Aam Sofyan. Sebuah kain organisasi yang mungkin terlihat sederhana bagi orang luar, tetapi memiliki makna besar bagi mereka yang percaya bahwa gerakan desa harus terus hidup.
“Saya atas nama Ketua Umum FORMADES, menyerahkan panji kehormatan kepada saudara, kibarkanlah di seluruh wilayah Jawa Barat,” ucap Junaidi Farhan dalam suasana khidmat dan disambut riuh tepuk tangan.
Pataka itu bukan hanya simbol organisasi. Ia adalah tanda bahwa perjuangan belum selesai.
Di tengah derasnya pembangunan yang sering kali lebih ramah kepada kota, desa masih berkutat dengan persoalan klasik: ketimpangan infrastruktur, lemahnya akses ekonomi, minimnya ruang bagi pemuda desa, hingga semakin terkikisnya kebudayaan lokal.

Dalam forum MUSDA itulah kegelisahan-kegelisahan tersebut dibicarakan secara terbuka.
Peserta MUSDA tidak hanya memilih ketua baru. Mereka juga menyusun rekomendasi dan arah gerakan organisasi untuk jangka pendek, menengah, dan panjang.
Ada dorongan agar FORMADES lebih aktif melakukan advokasi kebijakan desa, memperkuat ekonomi masyarakat berbasis lokal, membangun konsolidasi kader desa, hingga memperluas ruang pendidikan politik dan sosial bagi generasi muda desa.
Yang menarik, forum ini tidak terasa seperti ruang sidang organisasi yang kaku. Banyak pembahasan justru lahir dari pengalaman lapangan para peserta. Tentang jalan desa yang rusak tapi tak kunjung masuk prioritas pembangunan. Tentang petani yang terus kalah oleh sistem pasar. Tentang anak-anak muda desa yang akhirnya memilih pergi ke kota karena kampungnya tak lagi memberi harapan.
MUSDA FORMADES Jawa Barat juga melahirkan Resolusi Sumedang, sebuah rumusan sikap organisasi yang cukup kuat nadanya. Resolusi tersebut menegaskan bahwa desa tidak boleh terus diposisikan hanya sebagai objek pembangunan administratif.
Desa harus menjadi pusat kekuatan ekonomi rakyat, pusat kebudayaan, sekaligus ruang hidup yang bermartabat bagi masyarakatnya.
Dalam resolusi itu pula muncul seruan agar pembangunan tidak kehilangan watak kerakyatannya. Bahwa pembangunan desa harus berangkat dari kebutuhan warga, bukan hanya dari proyek dan angka-angka laporan. Sebab terlalu banyak desa yang terlihat maju di atas kertas, tetapi masyarakatnya tetap hidup dalam kesulitan.

Di luar forum resmi, suasana MUSDA justru terasa lebih hidup. Peserta berdiskusi sambil ngopi, bercanda, bertukar pengalaman, bahkan berdebat tentang masa depan desa hingga larut malam. Ada kesan bahwa yang sedang dibangun bukan hanya struktur organisasi, tetapi juga rasa memiliki terhadap gerakan bersama.
Kehadiran H. Aam Sofyan sebagai pemimpin baru FORMADES Jawa Barat membawa harapan tersendiri. Latar belakangnya di dunia organisasi sosial dan pembangunan infrastruktur dianggap cukup dekat dengan persoalan masyarakat desa. Namun tentu saja tantangan ke depan tidak ringan.
FORMADES Jawa Barat kini membawa harapan besar dari banyak kader desa yang ingin organisasi ini tidak berhenti pada seremoni dan spanduk kegiatan. Mereka ingin FORMADES benar-benar hadir di tengah persoalan rakyat desa.
Dan mungkin memang di situlah arti sebenarnya dari pataka yang diserahkan itu. Bukan sekadar bendera. Melainkan amanah untuk terus menjaga nyala perjuangan desa di Tanah Pasundan.
“Akhirnya, selamat kepada ketua baru DPD Formades Jawa Barat, lanjutkanlah perjuangan di tanah pasundan dengan hati dan ketulusan dwmi terwujudnya cita-cita keadilan dan kesejahteraan rakyat”.


















