DENYUTRAKYAT.COM, BANDUNG BARAT – Di balik kemegahan panggung pameran budaya, Nusantara sedang menyimpan duka. Budaya tradisi kita hari ini tidak sedang baik-baik saja, ibarat pohon yang kurus kering dan mengalami “stunting” ideologis.
Diakui secara lisan sebagai kebanggaan, namun faktanya dikhianati dalam kebijakan. Budaya kini hanya menjadi pemanis bibir, tanpa nutrisi kasih sayang yang nyata dari pemangku kebijakan.
Budaya Bukan Barang Dagangan
Kritik keras dilayangkan terhadap fenomena ‘pedagang budaya’. Warisan mulia leluhur kini kerap terjebak dalam transaksi materi dan eksploitasi politik demi keuntungan sesaat. Budaya telah kehilangan jiwanya karena hanya dihitung berdasarkan nilai ekonomi, bukan nilai spiritual dan historis.
Napas bangsa ini perlahan sesak, hanya dijadikan aksesoris seremonial yang akan dilupakan begitu panggung dibongkar.
Konstitusi yang Terabaikan, Pendidikan Adalah Kunci
Negara memiliki hutang besar terhadap amanat konstitusi. Pengabaian terhadap integrasi budaya dalam kurikulum sekolah adalah bentuk pelanggaran sistematis terhadap UUD 1945 Pasal 32 Ayat (1): Kewajiban negara menjamin kebebasan masyarakat memelihara nilai budayanya.
UU No. 5 Tahun 2017 (Pemajuan Kebudayaan): Kebudayaan sebagai fondasi pembangunan nasional dan PP No. 57 Tahun 2021: Mandat integrasi muatan lokal ke kurikulum inti, bukan sekadar tempelan.
Perda Pelestarian Budaya: Kewajiban pengajaran seni dan bahasa tradisi untuk membentengi identitas generasi.
Gugatan Tegas Sekjen DPP Formades & Presiden APN
Agus Dadang Hermawan, yang menjabat sebagai Sekretaris Jenderal DPP Formades sekaligus Presiden Asosiasi Pesilat Nusantara (APN), mengecam keras praktik eksploitasi ini.
“Hentikan transaksi ini. Budaya butuh nutrisi berupa kasih sayang dan ruang sah di sekolah, bukan sekadar pameran tahunan. Jangan paksa para penjaga tradisi (Maestro) menjadi ‘pedagang’ hanya untuk menyambung nyawa,” tegas Agus
Tiga Tuntutan Utama Formades & APN
- Kurikulum Wajib Berbasis Tradisi: Budaya lokal harus menjadi subjek utama pembentukan karakter, bukan sekadar hobi opsional.
- Kesejahteraan Maestro: Berikan pengakuan dan nutrisi ekonomi yang layak bagi pelaku budaya asli.
- Tutup Celah Eksploitasi: Jauhkan tradisi dari praktik jual-beli kepentingan yang merusak kesucian nilai spiritual.
Identitas bangsa sedang dipertaruhkan. Jika nutrisi budaya terus dipangkas di rumahnya sendiri, maka esok kita akan menjadi orang asing yang gagap di tanah air sendiri.














