Dari Larangan Ribut Soal Jalan Rusak ke Seruan Gotong Royong: Plin-plan Moral Seorang Pemimpin 

Berita, Daerah119 Dilihat
banner 468x60

TULANG BAWANG BARAT, denyutrakyat.com –  Pemimpin yang baik menjaga dua hal, janji dan arah. Sayangnya, arah kita hari ini berubah terlalu cepat. Kemarin disampaikan dengan tegas: “Jangan hanya ribut soal jalan rusak, ribut tidak membuat daerah maju.” Hari ini arahnya berbalik: “Mari warga gotong royong memperbaiki jalan kabupaten.”

Perubahan yang mendadak tersebut direspon senyum kecil Ketua LPM Tulang Bawang Barat, Junaidi Farhan. Saat ditemui media waktu beristirahat dari kegiatan bersepeda, Sabtu pagi (30/5/2026).

“Perubahan sikap boleh terjadi. Tapi perubahan prinsip tanggung jawab tidak bisa digeser sesuka mikrofon,” katanya santai.

Farhan menyebut, UU No. 2 Tahun 2022 tentang Jalan sudah mengatur jelas. Jalan kabupaten menjadi kewenangan dan kewajiban Pemerintah Kabupaten melalui Dinas PU.

“Warga berhak atas jalan yang aman. Warga juga boleh berpartisipasi, melapor, dan menjaga. Namun partisipasi tidak sama dengan pemindahan beban. Gotong royong mulia untuk hal darurat, menutup lubang kecil sementara atau membersihkan drainase agar air tidak merusak aspal. Gotong royong menjadi keliru jika dipakai sebagai alasan agar kewajiban struktural Pemkab tidak dijalankan,” jelasnya.

Selain itu Ia juga mengatakan bahwa yang membuat publik kecewa bukan seruan gotong royong itu sendiri. Yang mengganjal adalah kontradiksinya. Saat warga bersuara soal kerusakan, suara itu disebut “keributan yang menghambat kemajuan”. Giliran solusi anggaran belum terlihat, warga diminta paling depan membawa cangkul. Standar ganda seperti ini melemahkan kepercayaan. Kemajuan daerah seharusnya diukur dari mutu pelayanan, bukan dari seberapa patuh warga untuk diam.

“Pak Bupati, warga tidak minta sempurna. Masyarakat minta konsisten dan jujur. Jika anggaran terbatas, sampaikan datanya secara terbuka. Jika proyek terkendala, jelaskan kendalanya. Rakyat paham. Rakyat dewasa untuk diajak berunding.” Tegas Farhan sambil menitip sinyal pesan kepada pemimpin daerah.

Baca Juga  Sambut Ramadhan 2026, Ketua MTP IPHI Klaten Ajak Umat Siapkan 4 Bekal Utama

Lubang di jalan bisa ditambal dengan aspal. Lubang kepercayaan hanya bisa ditambal dengan konsistensi. Jangan kemarin melarang bersuara, besok meminta tenaga. Pemimpin plin-plan lebih berbahaya dari jalan rusak, karena kerusakan aspal terlihat dan bisa diperbaiki. Kerusakan arah membuat kita semua tersesat.

Daerah maju bukan karena warganya bungkam. Daerah maju karena pemimpinnya memegang amanah sampai tuntas.

Sampai berita ini diterbitkan belum ada pernyataan resmi dari Pemerintah Daerah Tubaba, meskipun pesan WhatsApp sering dikirim namun tetap sepi respon.

Posting Terkait

Jangan Lewatkan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *