Anak-anak “Istimewa” dan Tanggung Jawab Kita Bersama

Beranda, Fokus, Opini67 Dilihat
banner 468x60

Oleh: Yoseph Heriyanto

Masa remaja seharusnya menjadi fase tumbuhnya harapan dan cita-cita. Namun hari ini, tidak sedikit anak muda yang justru kehilangan arah di tengah derasnya pengaruh lingkungan, media sosial, dan minimnya ruang untuk didengar. Persoalan kenakalan remaja bukan lagi sekadar urusan sekolah, melainkan tanggung jawab bersama antara keluarga, lingkungan, dan negara.

DENYUT RAKYAT | Dalam sebuah obrolan dengan seorang kepala sekolah SMK swasta di Kabupaten Karanganyar, saya mendengar satu istilah yang cukup menarik: “anak-anak istimewa.” Istilah ini bukan ditujukan kepada mereka yang berprestasi di bidang akademik ataupun olahraga, melainkan kepada anak-anak yang membutuhkan penanganan khusus.

Anak-anak yang kerap bolos sekolah, sulit diatur, terjebak pergaulan bebas, mulai mengenal obat-obatan terlarang, hingga berbagai bentuk kenakalan remaja lainnya.

Saya justru melihat istilah itu sebagai bentuk pendekatan yang lebih manusiawi. Sebab sesungguhnya, mereka bukan anak gagal. Mereka hanyalah anak-anak yang sedang kehilangan arah, kehilangan ruang nyaman, dan kehilangan tempat untuk didengar.

Sayangnya, dalam banyak kasus, sekolah sering kali menjadi pihak yang paling mudah disalahkan ketika perilaku remaja mulai sulit dikendalikan. Padahal persoalan remaja hari ini jauh lebih kompleks dibanding sekadar urusan tata tertib sekolah.

Sekolah memang memiliki tanggung jawab pendidikan. Namun sekolah bukan satu-satunya pihak yang bertanggung jawab atas tumbuh kembang karakter anak. Ada keluarga, lingkungan sosial, hingga perkembangan teknologi yang ikut membentuk cara berpikir dan perilaku generasi muda hari ini.

Banyak orang tua sibuk bekerja dari pagi hingga malam demi memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga. Di sisi lain, anak-anak tumbuh dalam kesunyian komunikasi di rumah. Tidak sedikit anak yang akhirnya lebih dekat dengan gawainya dibanding dengan keluarganya sendiri. Rumah perlahan kehilangan fungsinya sebagai tempat pulang yang nyaman untuk bercerita.

Baca Juga  Musda Pertama Formades Jawa Barat Akan Memilih Pemimpin Yang Siap Membawa Perubahan Lebih Baik Bagi Masyarakat Desa 

Padahal, sering kali anak-anak yang dianggap “nakal” sebenarnya hanya sedang mencari perhatian dan tempat untuk didengar. Mereka tidak kekurangan nasihat. Mereka hanya kekurangan ruang dialog.

Di tengah situasi itu, media sosial hadir sebagai ruang pelarian yang paling mudah diakses. Sayangnya, tidak semua anak memiliki kemampuan untuk menyaring informasi dan pengaruh yang mereka konsumsi setiap hari. Dunia digital menawarkan banyak hal secara instan: gaya hidup bebas, kekerasan, pornografi, hingga normalisasi perilaku menyimpang yang perlahan dianggap biasa.

Akibatnya, berbagai persoalan remaja mulai bermunculan di sekitar kita.

Kasus pernikahan usia dini misalnya, masih menjadi persoalan serius di Kabupaten Karanganyar. Penelitian mengenai program DP3APPKB Karanganyar menunjukkan faktor ekonomi, lingkungan sosial, dan rendahnya edukasi menjadi penyebab utama tingginya pernikahan usia muda.

Dampaknya bukan hanya pada putus sekolah, tetapi juga munculnya persoalan sosial baru dalam keluarga muda yang belum siap secara mental maupun ekonomi.

Di sisi lain, aparat kepolisian juga beberapa kali mengungkap keterlibatan remaja dalam kasus narkoba dan peredaran tembakau sintetis. Belum lagi fenomena balap liar, tawuran, hingga kekerasan antar remaja yang semakin sering terjadi.

Ini menunjukkan bahwa problem generasi muda tidak bisa lagi dipandang sebagai kenakalan biasa. Kita sedang menghadapi krisis ruang tumbuh bagi anak-anak dan remaja.

Karena itu, pendekatan hukuman semata tidak akan pernah cukup.
Sekolah perlu membangun pendekatan yang lebih terbuka dan humanis. Guru tidak cukup hanya menjadi pengajar, tetapi juga harus hadir sebagai pendengar. Ruang konseling tidak boleh hanya aktif ketika ada pelanggaran. Anak-anak perlu diyakinkan bahwa sekolah adalah tempat aman untuk bercerita tentang tekanan hidup yang mereka hadapi.

Selain itu, sekolah juga harus berani membuka ruang kreatif yang lebih luas. Banyak anak sebenarnya memiliki potensi besar, tetapi tidak menemukan tempat untuk menyalurkan energi dan gagasannya. Kegiatan seni, olahraga, jurnalistik, komunitas kreatif, diskusi publik, hingga pelatihan konten digital positif bisa menjadi ruang alternatif bagi anak-anak untuk berkembang. Sebab tidak semua anak tumbuh melalui angka-angka akademik.

Baca Juga  SMA Siger Bandar Lampung Meski Tak Berizin Dapat Kucuran Hibah Rp360 Juta Dari Pemerintah Kota 

Sebagian dari mereka tumbuh melalui panggung musik, lapangan olahraga, kamera video, tulisan, atau komunitas sosial yang membuat mereka merasa dihargai.

Di saat yang sama, orang tua juga perlu kembali membangun kedekatan emosional dengan anak. Sesibuk apa pun pekerjaan, anak tetap membutuhkan kehadiran, perhatian, dan komunikasi yang hangat di rumah. Karena rumah yang nyaman akan selalu menjadi benteng pertama bagi anak dari pengaruh buruk lingkungan.

Persoalan remaja hari ini bukan hanya tentang anak-anak yang bermasalah. Ini tentang bagaimana orang dewasa sering kali gagal memahami dunia yang sedang mereka hadapi.

Maka, ketika kita berbicara tentang anak-anak “istimewa”, sesungguhnya yang sedang diuji bukan hanya mereka. Tetapi juga sejauh mana keluarga, sekolah, masyarakat, dan negara mampu hadir untuk menyelamatkan generasi muda dari kehilangan masa depannya.

Posting Terkait

Jangan Lewatkan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *