Penulis: Junaidi Farhan, Mantan Ketua Tim Kotak KosongĀ
DENYUT RAKYAT | Ada yang aneh tanggal 3 Mei 2026 kemarin di Tubaba. Musda IV Partai Golkar digelar. Gedung ada, kader ada, nasi kotak ada. Yang tidak ada? Perwakilan Pemkab. Kosong. Lebih kosong dari kotak suara waktu Pilkada 2024.
Lucu ya. Dulu, satu kursi Golkar itu dipuja-puja. Dielus-elus. Kayak jimat anti-kekalahan. Soalnya kalau kursi itu lepas ke orang lain, bisa-bisa “Nona” tidak jadi melawan kotak kosong. Bisa-bisa ada demokrasi beneran di Tubaba. Bahaya sekali.
Jadi demi keamanan dan kenyamanan, semua kursi partai diborong. Disapu bersih. Sampai Pilkada 2024 kita cuma disuguhin menu tunggal: pilih dia, atau pilih kotak kosong yang tidak bisa protes. Demokrasi ala prasmanan tapi lauknya cuma satu.
Golkar waktu itu jadi pahlawan. The Real MVP. King maker. Penentu takdir. Berkat satu kursi itu, skenario “lawan kotak kosong” berjalan mulus tanpa hambatan. Tepuk tangan.
Tapi rupanya, ingatan penguasa itu kayak memori ikan cupang. Begitu kotak kosong berhasil dikalahkan dengan gagah berani, mendadak semua jasa Golkar terformat otomatis. Undangan Musda? Masuk spam. Silaturahmi politik? Maaf, sinyalnya jelek.
Ini namanya politik habis manis sepah dibuang. Atau versi Tubaba: habis pakai kursi Golkar, gedung Musda dilewatin aja.
Pertanyaan buat Pemkab Tubaba: demam panggungnya sudah turun belum? Kalau takut kalah saja sampai harus borong semua partai, harusnya takut kualat juga dong kalau lupa balas budi.
Tenang, kami maklum. Namanya juga baru menang lawan kotak kosong. Mungkin euforianya belum habis. Sampai lupa kalau yang bikin kotak itu kosong ya salah satunya Golkar yang sekarang Musda-nya tidak dihadiri.
Penulis sarankan buat Golkar Tubaba: tahun depan kalau mau Musda, undangannya tulis “Pilkada Ulang”. Dijamin hadir semua. Lengkap dengan tenda, sambutan, dan janji manis.
Penulis ingat benar, Pilkada Tubaba 2024 hampir saja jadi pertarungan demokratis dua pasang calon. Kalau saat itu satu kursi Golkar di DPRD Tubaba tidak jadi barang mahal. Satu Kursi itu yang akhirnya memastikan pasangan “Nona” bisa melenggang sendirian melawan kotak kosong.
Golkar saat itu adalah Penentu. Tanpa Golkar merapat, peta politik Tubaba pasti beda. Bisa jadi pertarungan sengit, bukan aklamasi semu karena semua kursi diborong penguasa demi menghindari kekalahan.
Alasannya jelas: takut kalah. Ketakutan yang luar biasa dari penguasa Tubaba saat ini membuat demokrasi disandera. Semua partai diborong, sehingga rakyat hanya disuguhi satu pasangan calon versus kotak kosong. Demokrasi rasa aklamasi.
Dan sekarang? Setelah tujuan tercapai, setelah kotak kosong dikalahkan, Golkar ditinggal. Musda-nya sepi tanpa ucapan selamat dari pemerintah. Ini politik kacang lupa kulit. Dulu dirangkul karena butuh, sekarang dicampakkan karena sudah berkuasa.
Pertanyaannya: di mana etika politik? Di mana adab berterima kasih? Kalau bahkan partai penentu kemenangan saja tidak dihargai, bagaimana nasib rakyat kecil yang suaranya cuma dibutuhkan 5 tahun sekali?
Penguasa Tubaba harus malu. Karena kekuasaan yang diraih dengan membunuh kompetisi, lalu melupakan kawan koalisi, adalah kekuasaan yang rapuh. Hari ini Golkar yang dicuekin. Besok, bisa jadi rakyat yang dikhianati.






























