DENYUTRAKYAT.com, Pemalang – Memasuki bulan suci Ramadan 1447 Hijriah/2026, Kabupaten Pemalang justru dihantui oleh bayang-bayang “Darurat Sampah”. Dalam pantauan awak media disejumlah Tempat Pembuangan Sementara (TPS Jl. Anggur, Bojongbata, TPS Desa Mengori, TPS Desa Sewaka dan beberapa TPS dilokasi lain) hingga saat ini, belum terlihat adanya solusi konkret dan pasti dari pemerintah daerah terkait penanganan limbah rumah tangga yang kian menumpuk di berbagai sudut kota hingga pelosok desa.
Kondisi ini memicu keresahan luar biasa di kalangan masyarakat. Warga mengkhawatirkan aroma tidak sedap dan pemandangan kumuh akan mengganggu kekhusyukan ibadah di bulan yang penuh keberkahan tersebut. Pemalang dengan jargon daerah (“Ikhlas) atau sebagai kota santri justru malah persoalan darurat sampah yang tak kunjung teratasi berdampak pada warga masyarakatnya saat menjalankan ibadah puasa di bulan suci.
Bagi warga yang berdomisili dekat dengan Tempat Pembuangan Sampah Sementara (TPS), kekhawatiran ini bukan tanpa alasan. Tumpukan sampah yang kerap meluap hingga ke badan jalan menjadi ancaman kesehatan sekaligus kenyamanan. “Kami ingin beribadah dengan tenang. Kalau bau sampahnya menyengat sampai ke dalam rumah atau bahkan ke masjid, tentu sangat mengganggu. Kami minta pemerintah jangan abai, persoalan sampah ini jangan sampai merusak suasana Ramadan,” ujar, salah satu warga yang tinggal tak jauh dari salah satu TPS Desa Mengori, Rabu 18 Februari 2026.
Ia menambahkan bahwa selama bulan puasa, aktivitas di dapur biasanya meningkat yang berujung pada volume sampah yang lebih besar. Jika tidak ada sistem pengangkutan yang pasti, ia khawatir Pemalang akan benar-benar terkubur sampah di tengah bulan suci dan saat jelang IdulFitri maupun pasca hari raya IdulFitri.
Di sisi lain, tantangan berat juga dihadapi oleh para petugas Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Pemalang. Mereka harus bekerja ekstra keras mengangkut gunungan sampah di tengah kondisi tubuh yang sedang menjalankan ibadah puasa. Ketiadaan solusi jangka panjang terhadap Tempat Pembuangan Akhir (TPA) membuat alur kerja mereka terhambat. Lokasi pengelolaan sampah terpadu (TPST) dan lokasi pembuangan yang tidak menentu menambah beban fisik para pejuang kebersihan ini.
“Jika sarana dan prasarananya tidak mendukung atau lokasi pembuangan akhirnya tidak pasti, kerja petugas kebersihan atau pengangkut sampah dari DLH tentu akan lebih berat dan melelahkan. Apalagi nanti pada saat arus mudik hari raya IdulFitri, tentu akan meningkatkan volume sampah,” lanjutnya.
Menanggapi keluarga warga masyarakat terkait persoalan sampah yang dikhawatirkan akan mengganggu ibadah di bulan suci Ramadan, Aliansi Wartawan Pantura Bersatu berharap Pemerintah Kabupaten Pemalang segera mengambil langkah cepat dan taktis. Persoalan sampah bukan lagi sekadar masalah estetika, melainkan sudah menyentuh ranah sosial dan spiritual, terutama menjelang momen sakral seperti Ramadan.
Hingga berita ini diturunkan, warga masih menanti pernyataan resmi dan aksi nyata dari pihak terkait.
Tanpa adanya solusi pasti, Ramadan tahun ini di Pemalang terancam diselimuti aroma darurat sampah yang tak kunjung usai.


















