DENYUTRAKYAT.COM, KARANGANYAR – Sebut saja namanya Rahmad. Warga Karanganyar ini awalnya hanya ingin menjalani masa pensiun dengan tenang. Setelah puluhan tahun bekerja di perusahaan swasta, ia berpikir sudah waktunya uang pensiunnya diputar agar tetap produktif.
Pilihannya jatuh pada peternakan kambing—sektor yang belakangan sering disebut menjanjikan.
Dengan keyakinan itu, Rahmad menghabiskan hampir seluruh uang pensiunnya. Ia membangun kandang, membeli pakan awal, dan mendatangkan sekitar 40 ekor kambing.
Jenis yang ia pilih kambing gibas—yang saat itu harga indukannya berkisar Rp1,2 juta per ekor. Perhitungannya sederhana: kambing cepat berkembang biak, pasar selalu ada, dan nilai ternak akan ikut naik. Setidaknya, itu yang ia dengar.
Dalam waktu satu tahun, jumlah kambingnya memang bertambah. Anak-anak kambing lahir, kandang yang awalnya terasa lega mulai sesak. Dari luar, semuanya terlihat seperti usaha yang berjalan baik.
Masalahnya baru terasa ketika ia hendak menjual.
Harga yang ia bayangkan tidak pernah benar-benar ada di pasar. Kambing gibas yang dulu ia beli lebih dari satu juta rupiah, kini hanya dihargai sekitar lima ratus ribu rupiah per ekor oleh tengkulak.
Bukan turun sedikit—tapi jatuh jauh di bawah harapan. Dan ini bukan hanya cerita dari Karanganyar.
Di Pacitan, kambing dijual mulai Rp400 ribu per ekor. Di Banyuwangi, kambing muda berkisar Rp500–600 ribu. Sementara di Gresik, kambing gibas yang sebelumnya di kisaran Rp800 ribu hingga Rp1,3 juta kini turun menjadi sekitar Rp500–650 ribu.
Penurunannya tidak main-main. Di beberapa wilayah, harga disebut anjlok hingga 40 sampai 50 persen dalam waktu singkat. Angka-angka itu mungkin terlihat biasa di atas kertas. Tapi di kandang-kandang kecil, itu berarti kerugian yang nyata.
Pakde Ngadino, peternak lain di kampung yang sama, melihat situasi ini dengan cara yang lebih sederhana—dan mungkin lebih jujur. Menurutnya, sekarang dengan uang satu juta rupiah saja sudah bisa mendapatkan dua ekor kambing, bahkan masih bisa memilih yang bagus.
“Pasar lagi jatuh. Ternak kambing sekarang tidak bagus,” katanya.
Masalahnya tidak berhenti di situ. Pakan semakin sulit dicari. Kalau pun ada dan harus membeli, harganya sudah cukup mahal. Artinya jelas: harga jual turun, biaya justru naik. Peternak seperti Rahmad tidak punya banyak pilihan.
“Entah apa yang menyebabkan harga kambing bisa anjlok begitu. Saat ini, bisa bertahan saja sudah bagus. Kalau tidak kuat, ya terpaksa dijual murah untuk menutup operasional,” ungkapnya.
Kalimat itu cukup untuk menggambarkan posisi peternak kecil hari ini: bukan lagi soal untung, tapi bagaimana tidak tenggelam.
Yang terjadi sebenarnya bukan hal baru. Produksi didorong terus, orang-orang diajak beternak, dijanjikan pasar yang luas. Tapi ketika hasilnya melimpah, tidak ada yang benar-benar memastikan ke mana semua itu akan dijual.
Pasar dibiarkan berjalan sendiri. Harga dibiarkan jatuh. Dan peternak kecil, seperti biasa, diminta bertahan dalam situasi yang tidak pasti.
Di sisi lain, daya beli masyarakat tidak banyak bergerak. Konsumen beralih ke sumber protein yang lebih murah. Sementara itu, biaya pakan justru terus naik. Di titik ini, peternak seperti terjebak di dua arah yang sama-sama menekan.
Mereka tidak punya akses ke pasar besar. Tidak punya posisi tawar. Yang mereka hadapi hanya tengkulak—dan harga yang sudah ditentukan sebelum mereka sempat bicara.
Rahmad kini berada di titik yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Pilihannya terlalu sulit bagi peternak kecil: menjual dengan harga rendah, atau menahan dengan risiko biaya yang terus berjalan dan berhadapan dengan kerugian yang semakin besar.
Pada akhirnya, yang jatuh bukan hanya harga kambing. Tapi juga harapan orang-orang seperti Rahmad—yang sejak awal hanya ingin hidup tenang di masa pensiun, namun justru berhadapan dengan pasar yang tidak pernah benar-benar berpihak.


















