KUPANG, DENYUTRAKYAT.com – Ketua Bidang Penalaran dan Keilmuan Ikatan Pelajar Mahasiswa Asal Sumba Timur (IPMASTIM) Kupang, Sandiang Kaya Ndapa Namung, menilai kasus meninggalnya seorang siswa sekolah dasar (SD) di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), sebagai pukulan kemanusiaan dan tamparan keras bagi semua pihak, Selasa (17/2/2026).
Menurut Sandiang, peristiwa tersebut menyentuh sisi kemanusiaan yang paling mendasar, terlebih jika dugaan bahwa korban mengalami tekanan karena tidak mampu membeli perlengkapan sekolah benar adanya. Ia menilai kondisi itu menunjukkan masih adanya persoalan serius dalam pemenuhan hak anak atas pendidikan yang layak dan inklusif.
“Ini bukan sekadar peristiwa biasa. Jika benar ada tekanan karena ketidakmampuan membeli alat tulis, maka ini adalah pukulan kemanusiaan. Kita semua—pemerintah, sekolah, dan masyarakat—harus bercermin,” tegasnya.
Ia menekankan bahwa sekolah seharusnya menjadi ruang aman bagi setiap anak tanpa memandang latar belakang ekonomi. Karena itu, ia mendorong pemerintah daerah dan seluruh pemangku kepentingan untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem pendampingan dan pengawasan terhadap siswa, khususnya bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu.
Sebelumnya, seorang siswa SD berusia 10 tahun di Kabupaten Ngada dilaporkan meninggal dunia pada Kamis (29/1/2026). Dugaan sementara, korban mengakhiri hidupnya sendiri. Informasi tersebut menyita perhatian publik setelah beredar kabar bahwa korban diduga mengalami tekanan karena tidak mampu membeli perlengkapan sekolah.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Ngada, Elisius Kletus Watunggadha, menjelaskan bahwa pada hari kejadian korban dilaporkan tidak masuk sekolah, sebagaimana disampaikan Kepala Sekolah, Maria Ngene.
“Sekitar pukul 12.00 Wita, pihak sekolah menerima informasi bahwa anak tersebut ditemukan meninggal dunia di depan gubuk neneknya,” ujar Elisius pada Kamis (5/2/2026).
Berdasarkan keterangan warga, sehari sebelumnya yakni Rabu (28/1/2026), korban menginap di rumah ibunya, sementara neneknya bermalam di rumah tetangga. Keesokan harinya, Kamis (29/1), korban pergi menuju gubuk neneknya di kebun.
“Sebelum ke sana, sang anak sempat mengeluh kepalanya sakit,” jelas Elisius.
Sekitar pukul 08.00 Wita, seorang warga sempat melihat korban duduk di depan gubuk dan menanyakan alasan dirinya tidak bersekolah. Korban menjawab tidak masuk sekolah karena sakit kepala. Namun sekitar pukul 11.00 Wita, warga kembali mendapati korban sudah tidak bernyawa.
Pihak Dinas Pendidikan juga telah mengonfirmasi terkait tulisan tangan yang beredar di media sosial dan diduga merupakan pesan terakhir korban. “Kami telah mengonfirmasi kepada pihak sekolah. Kepala sekolah dan guru membenarkan bahwa tulisan tersebut adalah tulisan tangan siswa yang bersangkutan,” ungkap Elisius.
Sandiang menambahkan, peristiwa ini harus menjadi momentum bersama untuk memperkuat sinergi antara sekolah, orang tua, dan pemerintah dalam memastikan tidak ada anak yang merasa sendirian menghadapi kesulitan.
“Kita perlu empati, bukan penghakiman. Yang terpenting adalah memastikan kejadian serupa tidak terulang di masa depan,” tutupnya.


















