Dari Kontrakan Sempit ke Istana Negara: Heru Baskoro, Putra Pengetik Proklamasi yang Hampir Terlupakan Negara

Beranda, Berita, Nasional113 Dilihat
banner 468x60

DENYUT RAKYAT, BEKASI — Senin besok, 17 Agustus 2026, Heru Baskoro (84) akan duduk di tribun Istana Negara. Ia anak dari Sayuti Melik, sosok yang mengetik naskah Proklamasi 1945 dengan tangan gemetar karena tanggung jawab sejarah. Undangan dari Presiden Prabowo itu diantar langsung oleh Wakil Wali Kota Bekasi Abdul Harris Bobihoe.

Tapi perjalanan Heru ke istana tahun ini bukan sekadar seremoni. Ia datang setelah sempat “hilang” dari perhatian kita. Hidup dalam keterbatasan, baru dicari saat menjelang 17-an.

Dilansir dari kompas.com. Beberapa bulan lalu, nama Heru muncul bukan karena jasa ayahnya, melainkan karena kondisinya. Pria 84 tahun itu tinggal sendiri di rumah kontrakan sempit di Cipendawa Baru, Bekasi. Kesehatan menurun. Akses perawatan minim.

Baru setelah kabar itu ramai, Dinas Sosial Kota Bekasi bersama Kemensos menjemputnya pertengahan Juli 2026. Heru kemudian dipindahkan ke tempat perawatan dan pendampingan.

Pertanyaannya yang mengganjal, kenapa harus menunggu viral dulu? Kenapa negara baru hadir ketika HUT RI sudah di depan mata?

“Kami fasilitasi melalui Sentra Terpadu Pangudi Luhur Bekasi, didampingi Dinsos dan Pak Wawali,” kata Kepala Dinsos Kota Bekasi Robert Siagian, Sabtu (15/8/2026). Koordinasi pengawalan disebut sudah disiapkan agar perjalanan dari Bekasi ke Istana lancar.

Bagus. Tapi seharusnya pendampingan seperti ini tidak butuh momentum upacara.

Undangan tahunan, perhatian yang putus-nyambung
Anak angkat Heru, Siva, mengatakan keluarga memang rutin menerima undangan tiap 17 Agustus. Heru bahkan sempat tinggal di Kanada beberapa waktu.

“Ya betul, ada keluarga yang hadir mendampingi. Kami mengapresiasi perhatian pemerintah yang konsisten setiap tahun,” ujar Siva.

Kata kuncinya: “setiap tahun”. Artinya, di luar tanggal 17 Agustus, perhatian itu tipis. Padahal yang dibutuhkan keluarga pejuang bukan karpet merah setahun sekali, tapi jaminan hidup layak setiap hari: kesehatan, tempat tinggal, dan penghormatan yang nyata, bukan simbolik.

Baca Juga  BPK Ungkap Kelebihan Pembayaran Rp3,16 Miliar pada 22 Paket Proyek Dinas BMBK Lampung TA 2025

Kasus Heru jadi cermin pahit. Kita piawai merayakan sejarah, tapi sering lalai merawat orang-orang yang masih hidup dari sejarah itu.

Ke Istana dengan hati campur aduk
Besok Heru akan berangkat bersama Dinsos, Kemensos lewat STPL Bekasi, dan Wakil Wali Kota. Didampingi keluarga.

Ia berhak bangga. Ayahnya mengetik kalimat “Atas nama bangsa Indonesia” yang mengubah nasib 280 juta orang. Dan ia juga berhak kecewa, karena baru setelah tubuhnya rapuh dan rumahnya bocor, negara datang mengetuk pintu.

Semoga kehadiran Heru di Istana bukan hanya jadi foto seremoni. Semoga jadi pengingat: kemerdekaan bukan hanya soal upacara khidmat. Kemerdekaan juga soal memastikan anak-anak bangsa, terutama yang lahir dari rahim sejarah, tidak hidup dalam keterbatasan.

Karena menghargai pahlawan sejati adalah memastikan keluarganya tidak perlu menunggu 81 tahun untuk dianggap.

Posting Terkait

Jangan Lewatkan