20 Mei 1908 – Titik Nyala Persatuan Bangsa Indonesia

Beranda, Fokus105 Dilihat
banner 468x60

DENYUT RAKYAT | REDAKSI – Kebangkitan Nasional adalah masa bangkitnya rasa persatuan, kesatuan, dan nasionalisme bangsa Indonesia.

Tonggak utamanya adalah berdirinya organisasi Boedi Oetomo pada 20 Mei 1908 yang dicetuskan oleh mahasiswa STOVIA dan Dr. Wahidin Soedirohusodo.

Momen ini diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional.Sejarah tonggak penting ini ditandai oleh beberapa fase besar:

Latar Belakang (Politik Etis).

Kebangkitan nasional dipicu oleh penderitaan rakyat akibat penjajahan. Hal ini memicu kaum intelektual Belanda seperti C.Th. van Deventer menuntut kebijakan Politik Etis pada tahun 1901, yang membuka akses pendidikan bagi kaum bumiputra.

Masa Perintis (1908).

Lahirnya Boedi Oetomo pada 20 Mei 1908. Organisasi modern pertama kaum pribumi ini bergerak di bidang pendidikan dan kebudayaan, yang menyadarkan kaum terpelajar akan pentingnya identitas nasional.

Masa Penegas (1928).

Berbagai organisasi kepemudaan daerah akhirnya meleburkan diri demi persatuan. Puncaknya adalah ikrar Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928 di Jakarta, yang menegaskan satu nusa, satu bangsa, dan satu bahasa persatuan, Indonesia.

Presiden Soekarno menetapkan tanggal 20 Mei sebagai Hari Kebangkitan Nasional pada tahun 1948

Kebangkitan nasional adalah titik awal bagi bangsa Indonesia untuk bangkit dan memiliki jiwa nasionalisme, persatuan, dan kesatuan yang tinggi.

Masa ini merupakan masa ketika rakyat Indonesia mulai sadar akan pentingnya persatuan, kesatuan, dan perjuangan untuk meraih kemerdekaan dari penjajahan.

Secara sederhana, pengertian kebangkitan nasional bisa diartikan sebagai momen ketika semangat nasionalisme mulai tumbuh dalam diri bangsa Indonesia. Di masa ini, kesadaran untuk memperjuangkan kemerdekaan tidak lagi dilakukan secara sendiri-sendiri atau bersifat kedaerahan, tapi sudah mulai terorganisir dan bersatu.

Kebangkitan nasional 1908 ditandai dengan dua peristiwa penting yaitu, berdirinya Budi Utomo (ejaan lama: Boedi Oetomo) tahun 1908 dan Sumpah Pemuda tahun 1928.

Budi Utomo adalah organisasi pergerakan pemuda yang didirikan pada 20 Mei 1908 di Jakarta. Budi Utomo didirikan oleh Soetomo, Mohammad Soelaiman, Soeradji Tirtonegoro, Mohammad Saleh, Gondo Soewarno, Goenawan Mangoenkoesoemo, RM Goembrek, M Soewarno, dan Angka Prodjosoedirdjo, atas dorongan dr. Wahidin Sudirohusodo, seorang dokter lulusan STOVIA (Sekolah Kedokteran di Batavia).

9 Tokoh Penggagas dan Pendorong Lahirnya Budi Utomo

Berikut ini adalah tokoh penggagas dan pendorong lahirnya Budi Utomo yang dikutip dari laman Kebudayaan Kemdikbud dan sumber lainnya.

1. Dr. Soetomo

Soetomo adalah pendiri Budi Utomo yang pada awalnya dikenal sebagai mahasiswa STOVIA yang gemar mencari masalah. Namun, Soetomo bersama kawan-kawannya berhasil mewujudkan gagasan dr. Wahidin Sudirohusodo untuk mendirikan organisasi pergerakan nasional.

Baca Juga  Rocky Gerung Dari Pengkritik Keras ke Lingkar Kekuasaan

Pada awal pembentukan organisasi, Soetomo menjadi ketua Budi Utomo. Kemudian susunan kepengurusan organisasi dirombak dalam Kongres Pertama Budi Utomo pada Oktober 1908.

Dalam kongres tersebut, ketua Budi Utomo yang ditetapkan adalah Tirtokusumo yang saat itu adalah bupati Karanganyar. Pada 27 Desember 1961 Soetomo ditetapkan sebagai pahlawan nasional.

2. Mohammad Soelaiman

Tokoh penggagas dan pendorong lahirnya Budi Utomo berikutnya adalah Mohammad Soelaiman. Ia memulai pendidikannya di STOVIA pada 1 Maret 1903 dan mendirikan Budi Utomo pada 1908 bersama delapan kawannya.

Pada awal pembentukan organisasi, Soelaiman menjadi wakil ketua Budi Utomo. Setelah Kongres Pertama Budi Utomo, jabatan wakil ketua organisasi ini diduduki oleh dr. Wahidin Sudirohusodo.

3. Gondo Soewarno

Pada awal berdirinya Budi Utomo, Gondo Soewarno berperan sebagai sekretaris sementara. Ia juga disebut-sebut sebagai tangan kanan Soetomo sebab mahir berbahasa Belanda.

Kemahirannya itu dimanfaatkan untuk mendukung perkembangan awal Budi Utomo melalui tulisan-tulisannya.

Gondo Soewarno menegaskan agar Budi Utomo menjadi pelopor bagi Algemeen Javaancshe Bond (Persatuan Seluruh Jawa).

4. Goenawan Mangoenkoesoemo

Goenawan Mangoenkoesoemo adalah adik dari Tjipto Mangoenkoesoemo yang juga merupakan salah satu tokoh pendiri Budi Utomo.

Ia adalah pendiri sekaligus penggerak organisasi Budi Utomo yang sangat dekat dengan Soetomo. Saking dekatnya, ketika Goenawan meninggal pada 1929, Tjipto menyebut bahwa Soetomo telah kehilangan “dalang”-nya.

5. Raden Angka Prodjosoedirdjo

Raden Angka Prodjosoedirdjo adalah pendiri sekaligus bendahara pada pembentukan awal kepengurusan organisasi.

Raden Angka termasuk di antara tokoh intelektual yang tidak terjun ke kancah perjuangan dan pergolakan politik. Semasa hidupnya, Raden Angka mengabdikan diri sebagai dokter rakyat dan pendidik.

6. Mohammad Saleh

Selanjutnya adalah Mohammad Saleh. Ia adalah salah satu pendiri dan komisaris Budi Utomo.

Pada masa revolusi fisik, M Saleh bahu-membahu bersama rakyat mempertahankan kemerdekaan dengan caranya yakni sebagai dokter di Probolinggo, Jawa Timur.

7. Raden Mas Goembrek

Raden Mas Goembrek adalah pendiri sekaligus komisaris Budi Utomo keturunan pejabat teras di Keresidenan Bagelen di Jawa Tengah.

Ia memiliki peran penting dalam melakukan pendekatan dengan bupati-bupati untuk mendukung organisasi Budi Utomo.

8. Soeradji Tirtonegoro

Soeradji Tirtonegoro adalah pendiri dan tokoh yang mencetuskan nama organisasi Budi Utomo. Sebelum ditetapkan nama Budi Utomo atau Boedi Oetomo, Soeradji mengusulkan dua nama untuk perkumpulannya, yaitu Eko Projo dan Boedi Oetomo.

Baca Juga  Ketua Umum Formades Sampaikan Ucapan Selamat Atas Terpilihnya Djunaedi Mulyono Sebagai Ketua Umum Apdesi 2026-2031

Usulan tersebut disampaikan Soeradji dan Soetomo kepada dr. Wahidin Soedirohoesodo saat mengunjungi STOVIA. Kemudian, nama Boedi Oetomo atau Budi Utomo dipilih dan dijadikan nama resmi perkumpulan para pelajar STOVIA.

9. M Soewarno

Setelah menyelesaikan studi di STOVIA, M.Soewarno kemudian meneruskan studinya di Belanda. Semasa studi di STOVIA, ia aktif dalam pergerakan bersama teman-temannya sesama pelajar sekolah kedokteran.

Dalam organisasi Budi Utomo, ia berperan sebagai komisaris (Pembantu Umum) bersama komisaris-komisaris lainnya.

Mengapa berdirinya Budi Utomo dianggap sebagai awal kebangkitan nasional? Budi Utomo dikatakan sebagai awal kebangkitan nasional Indonesia karena dari sinilah muncul semangat nasionalisme yang terorganisir dan bukan hanya bersifat lokal atau kedaerahan.

Masa kebangkitan nasional ditandai dengan munculnya semangat nasionalisme tersebut. Oleh karena itu, tanggal berdirinya Budi Utomo, yakni 20 Mei kemudian ditetapkan sebagai Hari Kebangkitan Nasional.

Selain dibentuknya Budi Utomo, peristiwa lain yang menandai kebangkitan nasional adalah Sumpah Pemuda, yakni ikrar para pemuda Indonesia yang dihasilkan dalam Kongres Pemuda II pada 27-28 Oktober 1928.

Tidak hanya sebatas ikrar, Sumpah Pemuda memuat nilai-nilai luhur bangsa yang menandai perubahan perjuangan yang awalnya bersifat kedaerahan menjadi bersifat nasional.

Munculnya kebangkitan nasional di Indonesia berhubungan erat dengan situasi sosial, politik, ekonomi, dan pendidikan di masa penjajahan Belanda. Setelah sekian lama dijajah, rakyat Indonesia mulai merasakan penderitaan yang sama di berbagai daerah.

Hal ini kemudian menumbuhkan rasa solidaritas antar wilayah.

Latar belakang kebangkitan nasional adalah program Politik Etis Belanda pada awal abad ke-20, yang melahirkan kaum intelektual yang menjadi pemimpin gerakan. Selain itu, faktor pendorong kebangkitan nasional antara lain:

  • Penderitaan rakyat yang berkepanjangan akibat penjajahan
  • Kenangan kejayaan di masa lalu sebelum datangnya bangsa penjajah
  • Berkembangnya paham liberalisme, humanisme, dan nasionalisme

Tokoh Kebangkitan Nasional

Lahirnya kebangkitan nasional tidak lepas dari peran para tokoh kebangkitan nasional yang punya peran besar dalam membangkitkan semangat bangsa Indonesia. Tokoh kebangkitan nasional tersebut di antaranya:

1. dr. Wahidin Soedirohoesodo

dr. Wahidin Soedirohoesodo adalah seorang dokter dan reformis pendidikan di Hindia Belanda yang ikut mendirikan organisasi Budi Utomo. Beliau dikenal sebagai tokoh perintis kebangkitan nasional karena ide dan semangatnya menginspirasi berdirinya Budi Utomo.

Baca Juga  Pemerintah Tetapkan 1 Ramadan 1447 H Jatuh pada 19 Februari 2026

Wahidin ingin meningkatkan pendidikan pribumi sebagai jalan menuju kemajuan bangsa. Pada tahun 1973 beliau dinyatakan sebagai Pahlawan Nasional Indonesia.

2. Dr. Soetomo

Salah satu pendiri Budi Utomo yaitu dr. Soetomo merupakan mahasiswa STOVIA yang sangat aktif dan berpengaruh dalam organisasi ini. Beliau juga meneruskan semangat nasionalisme melalui berbagai kegiatan sosial dan politik.

Dr. Soetomo dikenal sebagai tokoh yang menjunjung tinggi pendidikan dan kesehatan. Beliau mendirikan Indonesische Studieclub di Surabaya pada 1924 untuk meningkatkan kesadaran politik dan kecerdasan masyarakat. Selain itu, beliau juga dikenal sebagai dokter yang mengutamakan kepentingan pasien, bahkan sering membebaskan biaya perawatan.

3. Ki Hadjar Dewantara

Ki. Hajar Dewantara dikenal sebagai salah satu tokoh yang terlibat dalam organisasi pergerakan Budi Utomo. Selanjutnya, beliau juga membuat suatu organisasi bersama temannya Douwes Dekker dan Dr. Tjipto Mangunkusumo yang terkenal dengan nama Tiga Serangkai.

Ki Hadjar Dewantara juga dikenal sebagai tokoh pendiri Taman Siswa dan tokoh penting dalam bidang pendidikan. Beliau percaya bahwa pendidikan adalah kunci membebaskan bangsa dari penjajahan.

Oleh karena itu, tanggal lahirnya yakni 2 Mei diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional. Kata-kata terkenalnya yaitu “Ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani.”, yang memiliki arti “Di depan memberikan teladan, di tengah membangkitkan semangat, di belakang memberikan dorongan.”

4. H.O.S. Tjokroaminoto

Raden Mas Haji Oemar Said Tjokroaminoto, atau lebih dikenal sebagai H.O.S. Tjokroaminoto, adalah seorang nasionalis Indonesia yang pernah menjadi salah satu pemimpin organisasi Sarekat Dagang Islam, yang didirikan oleh Samanhudi, yang kemudian menjadi Sarekat Islam. Beliau juga dikenal sebagai guru para tokoh nasional seperti Soekarno, Semaoen, dan Kartosuwiryo.

Makna Kebangkitan Nasional untuk Generasi Sekarang

Meskipun peristiwa kebangkitan nasional terjadi 118 tahun lalu, makna kebangkitan nasional masih sangat relevan sampai sekarang. Di era digital ini, kita bisa mengartikan kebangkitan nasional sebagai semangat untuk bangkit dari berbagai tantangan, mulai dari pendidikan, ekonomi, sampai teknologi. Kita bisa ikut “bangkit” dengan belajar lebih giat, berinovasi, dan tetap semangat berkontribusi untuk bangsa meski dalam bentuk yang berbeda.

Kebangkitan nasional di Indonesia ditekankan pada pentingnya solidaritas, rasa memiliki bangsa, dan kerja sama. Bukan cuma tugas pemerintah, tapi tanggung jawab kita juga sebagai warga negara.

Posting Terkait

Jangan Lewatkan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *