DENYUT RAKYAT, TAKALAR – Keluhan terkait ketersediaan air irigasi kembali mencuat di wilayah pertanian Cakura–Su’rulangi–Bulukunyi, Kabupaten Takalar. Warga di area BC 4 hingga BC 5, meliputi Panggentungan dan Kampung Bugis, mengaku pasokan air tidak merata sehingga berdampak pada lahan pertanian mereka.
Sejumlah warga menyoroti belum optimalnya peran pihak terkait dalam mengatur distribusi air. Mereka menilai Petugas Pintu Air (PPA) memiliki tanggung jawab utama karena bertugas mengatur aliran di saluran induk.
Namun, di lapangan, koordinasi dengan pengurus Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A) dinilai masih lemah.
Sementara itu, salah satu petugas pengairan menjelaskan bahwa tugas PPA terbatas pada membuka pintu air, menyalurkan, serta menghitung debit air. Adapun pengaturan distribusi di tingkat lahan sepenuhnya menjadi kewenangan P3A, termasuk menyampaikan kebutuhan air kepada petugas.
“Jika di lokasi BC 5, sebaiknya langsung berkoordinasi dengan petugas pintu air di bangunan BP 8. Setelah air dialirkan, pengaturannya di tingkat petani adalah tanggung jawab P3A,” ujarnya, Sabtu (18/04/2026)

Wilayah tersebut merupakan bagian dari jaringan irigasi yang bergantung pada Bendungan Pammukkulu sebagai sumber utama air.
Karena itu, warga berharap adanya pembenahan sistem distribusi serta peningkatan koordinasi antarpetugas agar pasokan air dapat menjangkau seluruh lahan secara adil dan berkelanjutan.


















